Mengangkat Pasar Domestik: Indonesia Butuh Terobosan Baru

Satu Desa Satu Produk, Gerakan Lokal Orientasi Nasional*

Perdagangan bebas dalam bingkai menuju perekonomian global tentu menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Dimanakah Indonesia? Apakah pelaku atau hanya penonton saja? Hati pun waswas, cemas akan tergilas. Bagaimana tidak,  ribuan barang impor menyerbu pasar Indonesia. Di sisi lain, perlu diingat bahwa kita juga memiliki para  produsen dalam negeri. Hadirnya barang-barag impor yang rata-rata harganya murah membuat banyak produsen lumpuh dan akhirnya gulung tikar. Ditambah lagi tipe masyarakat kita saat ini yang cenderung konsumtif menjadi pelumas bagi  terciptanya iklim domestik yang buruk dan sama sekali tidak memihak produsen dalam negeri.

Kita butuh sebuah formula yang bukan saja berfungsi membendung derasnya produk-produk impor, tetapi yang terpenting adalah  mendorong produktivitas masyarakat kita. Tragis, bagaimana bisa kita berorientasi internasional sementara produk domestik saja yang jelas-jelas berorientasi nasional  belum menjadi raja di negerinya sendiri.

Jika Thailand dapat mengembangkan metote OTOP (One Tambon One Product) yang diadopsi dari OVOP (One Village One Product) yaitu sebuah strategi pengembangan ekonomi yang awalnya lahir di Jepang, maka sangat mungkin kita bisa  menerapkan strategi sejenis untuk meningkatkan pasar domestik kita. Bahkan lebih hebatnya lagi, Indonesia didukung 230 juta jiwa sebagai pasar utama yang mendiami 33 provinsi dengan keunggulan dan kekhasan produk daerahnya masing-masing. Sumber daya alam kita yang melimpah ruah merupakan aset utama yang tak kalah pentingnya.

Satu Desa Satu Produk bukanlah sebuah formula tanpa makna, tetapi sejatinya adalah ajang nyata pengembangan potensi daerah di satu wilayah baik itu di tingkat desa, kecamatan, kabupaten,  provinsi, maupun meluas ke kesatuan wilayah lainnya untuk menghasilkan satu produk unggulan berkelas global dengan mengembangkan sumber daya lokal.

Sebut saja kopi luwak. Produk yang satu ini bisa menjadi produk andalan bagi daerah yang menjadi titik awal berkembangnya kopi ini, Lampung. Di dalam masyarakat kita, kopi luwak bisa saja murah tetapi di pasar luar negeri harganya bisa selangit. Perlu merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk menikmati segelas kopinya. Belum lagi hasil konveksi masyarakat seperti tenun Cual yang berkembang di Bangka Belitung. Berkat kreatifitas tinggi perajin, tenun ini telah melanglang buana ke seantero Nusantara bahkan ke mancanegara. Produk-produk semacam ini bisa menjadi produk lokal bereputasi global. Keduanya hanyalah sebagian kecil dari banyak produk asli, inovatif, dan kreatif milik bangsa kita. Disamping makanan dan hasil tenun, Indonesia memiliki berbagai barang seni dan kerajinan yang khas dan bernilai tinggi.

Sekali lagi bahwa itulah yang kita butuhkan. Produk lokal bereputasi global.  Kunci jawaban untuk memperkuat pasar domestik Indonesia. Pemerintah sebagai ujung tombak dari kebijakan sekaligus lini pembuka hubungan perdagangan internasional, mesti serius mengadakan gerakan-gerakan nyata menyentuh masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan tujuan tersebut. Dikombinasikan dengan cara pengemasan produk (product packaging) yang menarik dan promosi yang masif kita yakin produk Indonesia akan melesat menuju kancah percaturan produk global.

*Tulisan ini dimuat pada Opini Mahasiswa Harian Seputar Indonesia Edisi Rabu, 21 September 2011


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s