Saatnya Mahasiswa Memasyarakatkan Perpustakaan

Berbicara kemajuan pendidikan, berbicara pengetahuan. Populer di telinga kita, ungkapan klasik dari seorang Francis Bacon, “Nam et ipsa Scientia Potesta Est” atau “knowledge is power”. Pengetahuan adalah kekuatan. Perlu dicatat, bangsa yang saat ini menjadi negara maju, misalnya Jepang dan Amerika Serikat, mereka menaruh perhatian yang lebih terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka menyadari, betapa pentingnya peran dan manfaat pengetahuan dalam kehidupan. Kebutuhan akan pengetahuan tak ubahnya seperti pada air, udara atau sinar matahari. Lalu, dimana kita bisa memenuhi kebutuhan itu? Tentu saja, mahasiswa sangat akrab dengannya, perpustakaan.

Perpustakaan adalah lautan ilmu pengetahuan yang luas. Memasyarakatkan perpustakaan berarti memasyarakatkan pengetahuan. Tak bisa dipungkiri, dinamika zaman di era globalisasi sangat cepat. Di tengah-tengah krisis multidimensi, ditambah lagi kondisi sosial ekonomi yang tak menentu, kita memerlukan solusi relevan dan representatif yang tujuannya membentuk manusia yang cerdas dalam membuka cakrawala dunia, khususnya dalam menerima kemajuan dan perkembangan sains dan teknologi yang ada.

Aktivitas membaca dan mengarahkan masyarakat pada ilmu pengetahuan dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan perpustakaan sebagai media utama. Pemikiran sempit soal perpustakaan mesti diubah. Kini di era informasi, perpustakaan bukan lagi didefinisikan sebagai tempat berisi tumpukan buku semata, namun perpustakaan adalah ‘central of movement’ atau pusat perubahan. Tempat bukan lagi hal pokok. Kemajuan teknologi memungkinkan perpustakaan bisa diakses dimanapun dan kapanpun melalui teknologi internet dan koleksi digital.

Perpustakaan, dijalankan demi kemajuan pengetahuan masyarakat sesuai dengan tujuan nasional, mencerdaskan kehidupan bangsa seperti termaktub dalam UUD 1945. Saya, dan rekan mahasiswa lain yang seperjuangan telah mencoba berupaya mewujudkannya. Di atas halaman depan sebuah rumah kos-kosan, berdiri sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) kecil nan sederhana memang, TBM KA BAIM, begitu kami menamakannya. Mulai dari aktivitas membaca, mendongeng, hingga kegiatan sosial kami selenggarakan. Terbukti, antusiasme masyarakat begitu tinggi. Setiap akhir pekan kami mengundang anak-anak untuk belajar dengan desain belajar sambil bermain .

Tantangan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana kita membangun minat membaca di dalam diri mahasiswa sendiri, lalu menularkan dan membangunnya di dalam masyarakat. Minat akan muncul jika ada kepentingan terhadap sesuatu dilandasi dengan rasa senang terhadap sesuatu itu. Demikian halnya membaca, mesti diawali rasa senang dan memberikan penyadaran pada masyarakat tentang manfaat membaca. Dan sebaik-baik penyadaran adalah teladan. Mahasiswa dapat beraksi, memberikan teladan pada masyarakat, salah satunya dengan mendirikan taman bacaan masyarakat, membangun perpustakaan di rumah, atau minimal mengajak keluarga berekreasi di perpustakaan.

Dengan demikian, berawal dari gerakan perseorangan membaca dapat menjadi gerakan masyarakat, mengakar dalam budaya, akhirnya mengantar rakyat Indonesia menjadi masyarakat pembelajar atau masyarakat berbasis informasi (information base society) dengan partisipasi aktif dari mahasiswa sebagai insan intelektual bangsa, yang berangkat dari memberikan perhatian besar dan kontribusi nyata pada peranannya untuk memasyarakatkan perpustakaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s