Yang Muda Yang Berkarakter

Masa depan pemuda adalah masa depan Indonesia. Artinya, kondisi pemuda saat ini adalah gambaran Indonesia ke depan. Berbicara masa depan berarti bicara masalah pemimpin. Para pemimpin terutama dalam sekup nasional yang saat ini duduk sebagai wakil rakyat di DPR, MPR bahkan Presiden sekalipun ada batasannya. Tak selamanya menjabat. Entah karena usia atau karena habis masa jabatan regenerasi pasti terjadi. Lalu siapa lagi yang akan memegang tampuk pemerintahan sebagai haluan bangsa ini jika bukan para pemuda masa ini.

Pertanyaannya, pemuda seperti apakah yang menjadi motor Indonesia menuju bangsa yang adil dan makmur? Melihat pemuda kita, dewasa ini banyak terjebak dalam peredaran narkoba, pergaulan bebas, aksi-aksi terorisme, bahkan praktik korupsi. Pemuda seakan kehilangan arah. Teringat akan masa lalu tepat 83 tahun silam, pemuda kita begitu semangat menyatukan arah menuju pembentukan sebuah bangsa yang berdaulat. Pemuda pula yang mendesak golongan tua yaitu Soekarno-Hatta untuk segera memproklamirkan bangsa ini. Tak terbayang peluh keringat dan kucuran darah yang keluar demi tegaknya bangsa ini.

Pemuda sejatinya mesti mampu menjawab tantangan maupun permasalahan bangsa hari ini dan hari esok. Sangat tepat kita menyebut mereka pemimpin  muda. Pemikiran yang masih segar dan fisik yang masih kuat menjadi nilai khusus yang dimiliki seorang pemuda. Tetapi, apakah cukup sampai disitu? Tidak! Jikalau sebatas pikiran segar yang dimiliki, pemimpin muda hanya menjadi pemikir cerdas yang bisa jadi membodohi bangsanya. Jika hanya fisik kuat saja, pemimpin muda tak ubahnya seperti seorang petarung di atas ring. Yang muncul adalah anak muda yang tergila-gila dengan kekuasaan, terjebak materialisme dan hedonisme dosis tinggi.

Bila ditelisik, ada satu yang hilang dari bangsa kita. Tiada lain adalah karakter. Bangsa ini mampu bangkit dengan pemuda dan karakter.

Sangat jelas kita butuh pemimpin muda berkarakter. Tak hanya merasa pintar tetapi pintar merasa. Erie Sudewo dalam buku “Character Building”menyampaikan bahwa karakter adalah fondasi. Apapun kompetensi yang dibangun di atas fondasi ini akan berdiri tegak dengan baik dan benar. Kompetensi saja tidak cukup. Karakter mesti jadi dasar, ruh, atau jiwanya. Karakter wilayahnya pada perbaikan diri. Ditopang oleh tiga karakter dasar yaitu tidak egois, jujur dan disiplin. Lebih dari itu, ikhlas, sabar, bersyukur, bertanggung jawab, berkorban, perbaiki diri, dan sungguh-sungguh mesti melekat dalam dirinya. Apalagi seorang pemimpin, mestilah adil, arif, bijaksana, ksatria, rendah hati, sederhana, visioner, solutif, komunisatif, dan inspiratif. Tataran karakter bukanlah konsep belaka, namun karakter merupakan kumpulan sifat baik yang telah dillaksanakan dan menjadi perilaku sehari-hari.

Dengan karakter akan muncul pemimpin yang amanah, yang sadar kekuasaan bukanlah lahan mencari kekayaan. Karakter akan melahirkan para pengusaha yang tak serakah, membentuk pelajar yang mengerti pentingnya kejujuran, menciptakan guru-guru yang tak hanya berfungsi pengajar tetapi sebagai pendidik, dan tentunya membangkitkan kembali semangat pemuda sebagai lokomotif perubahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s