(Lagi-Lagi) Tentang Interaksi Lawan Jenis Dunia Nyata dan Maya

Bagaimana Berinteraksi Dengan Lawan Jenis Di Dunia Nyata Maupun Maya
Oleh: dr. Raehanul Bahraen

“Ustadz bagaimana cara kita menghadapi para akhwat di kampus ustadz, kalo praktikum ama kuliah kadang ketemu, kalau diskusi tutorial apalagi? Kita ga lihat mukanya ustadz? Atau ngomong sambil lihat bawah terus? Atau nengok ke atas terus? Atau bicaranya posisi bersampingan?”

 “Ustadz di kampus banyak cewek-cewek  gaul dan penampilannya agak menggoda, awalnya sih ga tertarik karena yang kayak gitu ga cocok jadi istri, mana mau saya dapet istri cantiknya dinikmati orang banyak, tapi lama-lama lihat dia kok kayaknya orangnya enak diajak ngobrol ya, kadang agak keibuan juga? Kayaknya kalo jadi istri bisa dibina deh, gimana ya ustadz, cara menghadapinya?

“Ustadzah, gimana nih, ada cowok temen kampus, temen penelitian, orangnya agak awam tentang agama, baik sih, bertanggung jawabnya dengan penelitiannya, dia juga anak band lho. Awalnya biasa aja sih sama dia, tapi kan sering ketemu bahas penelitian, awalnya ngobrol biasa, eh lama-lama dianya kadang curhat dan tanya-tanya pendapat saya, kadang saya cuekin tapi ga enak juga ditanyain pendapat ga dijawab, akhirnya dia makin sering sms. Awalnya saya jawab seadanya aja smsnya, kadang ga saya jawab. Alhamdulillah sudah dapet nasehat bahwa ini nanti bisa fitnah, akhirnya saya bilang ke cowok itu supaya jangan sms dan tanya pendapat saya, saya jelaskan baik-baik supaya ia jangan sms dan curhat dengan saya, cukup sms masalah penelitian aja. Sejak itu dia ga sms lagi, tapi ustadzah, kok malah saya yang agak galau ya, rasanya agak sepi ga ada sms dari dia lagi, kok saya mulai sering mikirin dia ya? Berandai-andai seandainya dia ga awam, udah “ngaji”, apakah saya mulai jatuh cinta ya ustadzah? Beginikah rasanya kena khamr asmara? Gimana cara menghadapinya ustadzah?”

“Ustadz tahu ga, di facebook ada istilah “penjahat ta’aruf” ama “ahlun nadzor”, itu tu ikhwan gadungan yang sering goda akhwat lewat inbox facebook. Ikhwan gadungan yang jadi “mendadak ustadz” karena sering udpate status agama dan nasehat, sering buat “note copas ”, tanpa cantumkan sumber, klo kita blok tulisannya trus, liat di google ternyata tulisan orang lain. Nah yang kayak gini sering cari temen akhwat, ikut komen, trus inbox dengan kata-kata halus dan memikat inbox akhwat ajak ta’aruf trus minta tukeran foto, kalo jelek menurut dia, ya sudah ditinggalin, makanya disebut “ahlun nadzor “ustadz, karena udah banyak yang akhwat yang digitukan”

“Akhi, apa salahnya engkau hapus semua frendlist akhwat di akunmu? Kalau memang kamu ga kuat iman ya jangan!  Apalagi masih Jomblo, ga ada yang jagain dan awasi.”

“Ukhti, jangan sekali-kali menerima pertemanan sama ikhwan, nanti terjerumus lho, mulai ada ikhwan gadungan di dunia maya, dunia maya sekarang lebih berat dari dunia nyata karena lebih tersembunyi dan hanya tiga yang tahu hubungan gelap itu, si ikhwan, si akhwat dan Allah.”

“Idih, amit-amit tu akhwat, suami orang sering digangguin lewat facebook, ya kalo mau, tantangin tu ikhwan, berani memadu ga? Jangan maen belakang, kasihan istrinya khan”

“Subhanallah, ada istri kecanduan internet sama facebook, suaminya kerja mencari rezeki seharian, eh eh dia malah asyik facebookan ria ama laki-laki lain, dia senang banget ama pujian dan kata-kata manis laki-laki itu, curhat-curhatan. Memang sih suaminya sibuk, tapi kan bisa dikomunikasikan.”

Akibat dari interaksi laki-laki dan wanita yang sering bercampur-baur

Demikianlah sekelumit beberapa kasus yang mewakili kisah di dunia nyata dan di dunia maya, sebagai buah dari hasil interaksi yang tidak terbatas antara laki-laki dan wanita. Di tempat kita belum sepenuhnya terjadi pemisahan yang ideal interaksi laki-laki dan wanita yang sejatinya oleh syariat diatur agar terpisah semaksimal mungkin. Idealnya, kelas terpisah laki-laki dan wanita, kantor meminimalkan campur aduk dan interaksi wanita serta diberbagai tempat,kemudian para wanita yang lebih banyak dirumah serat jika keluar rumah menutup aurat dengan sempurna. Itulah idealnya, ini tidak aneh justru inilah idealnya dan sempurnanya pengaturan interaksi laki-laki dan wanita.

Inilah ajaran Islam yaitu membatasi seminimal mungkin interaksi antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram dan meminimalkan bercampur baur. Jangan katakan,

“Ini aneh! Bagaimana kok memisahkan antara laki-laki dan wanita, susah lho, bagaimana dong rumah sakit khusus laki-laki, kantor khusus wanita?,  Kan ada yang dikerjakan oleh wanita dan ada yang oleh laki-laki, Biasa aja kok kelas dicampur laki-laki dan wanita ”.

Maka kita katakan ini, tidak aneh, semua bisa diatur dan kita katakan adalah meminimalkan, bukan memisahkan sama sekali. Konsep dan manhaj ini inilah yang terjadi pada ZamanRasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Konsep pada zaman keamasan Islam yang membawa Islam menguasai sepertiga dunia hanya dalam waktu 30 tahun, meruntuhkan dua imperium besar Romawi dan Persia. konsep yang meminimalkan ikhtilath/campur baur laki-laki dan wanita. Ini buktinya:

Para Sahabat radhiallahu ‘anhum saja, dengan keimanan mereka, ketika bertanya kepada Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –dengan keimanan mereka juga- harus bertanya dibelakang hijab.

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعاً فَاسْأَلُوهُنَّ مِن وَرَاء حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Al-Ahzab: 53)

Nah, bagaimana dengan kita yang keimanan kita di bawah keimanan mereka?

Begitu juga para wanita di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menutup aurat mereka secara sempurna, maka tatkala turun ayat hijab mereka berjibab sempurna seperti gagak hitam (bukan berarti hijab harus hitam saja). Sebagaimana yang diceritakan oleh Ummu Salamahradhiallahu ‘anha, beliau berkata,

لما نزلت: يدنين عليهن من جلابيبهن خرج نساء الأنصار كأن علي رؤوسهن الغربان من الأكسية

Ketika turun firman Allah (yang artinya), “Hendaknya mereka (wanita-wanita beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” [Al-Ahzab :59] wanita-wanita Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam-red) kain-kain (mereka).”[1]

Begitu juga kisah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu yang cemburu kalau istrinya yang berbelanja di pasar, karena pasar adalah tempat campur baur dan sulit dipisahkan. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah mengirimkan surat kepada salah satu kota, untuk berbicara kepada para penduduknya. Ia menulis:

“بلغني أن نساءكم يزاحمن العلوج –أي الرجال الكفار من العجم – في الأسواق ألا تغارون؟ إنه لا خير فيمن لا يغار

Telah sampai kepadaku kabar bahwa perempuan-perempuan kalian berdesak-desakan di pasar dengan orang-orang kafir non-arab!! Tidakkah kalian cemburu?! Sungguh tidak ada kebaikan pada orang yang tidak punya rasa cemburu”.

Mereka yang berpikiran liberal dan terpengaruh pola kehidupan barat tidak terima dengan hal ini, bagaimana bisa dipisah semua sendi kehidupan antara laki-laki dan wanita. “Sungguh aneh” kata mereka. Tetapi justru kaum muslimin yang mengatakan “tidak aneh” ketika orang-orang yang terpengaruh kehidupan barat dan berpikiran liberal menganggap ajaran ini aneh dan asing, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan jauh hari sebelumnya bahwa ajaran islam akan dianggap asing.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا. فطوبى للغرباء

Islam pada awalnya asing dan akan kembali asing kelak sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang (dianggap) asing” (HR. Muslim no.145)

Jika mereka katakan, lihat negara barat maju kok, laki-laki dan wanitanya dicampur. Maka kita katakan, kemajuaan orang kafir bukan semata-mata karena mereka hebat tetapi juga karena kelemahan kaum muslimin. Maka kita katakan juga, apakah Allah sang pencipta lebih mengetahui kebaikan mahluknya atau kalian?

Allah Ta’ala berfirman,

أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ

“Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah (yang lebih mengetahui)?” (Al-Baqarah: 140).

Maka solusi terbaik adalah meminimalkan ikhtilat dan mencegah khalwat laki-laki dan wanita. Lihat bagaimana akibat dari merajalelanya perzinahan di dunia barat, zina dianggap biasa bahkan kebanggaan. Zina di jalan-jalan di tempat terbuka, punya anak sebelum menikah sudah biasa terjadi. Tidak heran suatu saat menjelang kiamat akan merajalela perzinahan “masuknya timba ke dalam sumur” di tempat-tempat umum dan jalan-jalan, sehingga orang yang paling baik di zaman itu adalah yang berkata, “coba kalian lakukan agak dipinggir sana”, na’udzubillah…

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

إن من أشراط الساعة : أن يرفع العلم ويثبت الجهل ، ويشرب الخمر ، ويظهر الزنا

“Tanda-tanda datangnya kiamat diantaranya: Ilmu agama mulai hilang, dan kebodohan terhadap agama merajalela, banyak orang minum khamr, dan banyak orang yang berzina terang-terangan”[2]

Berat menjaga hati di lingkungan yang bercampur baur laki-laki dan wanita

Inilah salah sumber perselingkuhan dan perzinahan, lebih-lebih di dunia kampus dan sekolah yang rata-rata penghuninya adalah mereka yang belum menikah dan kurang bisa menjaga pandangan. Kita sudah tahu bahwa kita diperintahkan menundukan pandangan, utamanya bagi laki-laki. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْلِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌبِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An Nur: 30)

Dan wanita juga diperintahkan menundukkan pandangan, Allah Ta’ala berfirman,

Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقُلْلِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (An-Nuur : 31)

Akan tetapi jiwa muda terkadang memberontak, terkadang mata tidak berkedip walaupun ia sudah tertunduk malu. Terkadang mata seolah melirik secara otomatis kepada dia yang sedang menyeberang jauh. Tidak heran karena, ia adalah kecenderungan hati terbesar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَاتَرَكْتُبَعْدِىفِتْنَةًأَضَرَّعَلَىالرِّجَالِمِنَالنِّسَاءِ

“Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah (cobaan) yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki yaitu (fitnah) wanita.”[3]

Wanitapun demikian, ia adalah saudara kandung laki-laki. Ia memiliki perasaan yang sama, memiliki kebutuhan yang sama, lebih-lebih ditambah buaian pujian dan janji angan-angan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما النساء شقائق الرجال

“Sesungguhnya wanita itu saudara kandung laki-laki.” [4]

Solusinya adalah meminimalkan ikhtilath dan mencegah khalwat

Hal ini sudah tercermin dalam ajaran Islam misalnya saja ketika shalat yaitu orang datang dengan tujuan beribadah dan khusyu’, maka dipisahkan antara shaf laki-laki dan wanita bahkan diberi hijab agar tidak bisa melihat satu dengan yang lain. Karena awal dari fitnah adalah pandangan. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, 

يَاعَلِىُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ

“Wahai `Ali, Janganlah kamu ikuti pandangan (pertama) itu dengan pandangan (berikutnya). Pandangan (pertama) itu boleh buat kamu, tapi tidak dengan pandangan selanjutnya.” [5]

Begitu juga mencegah khalwat (berdua-duaan laki-laki dengan wanita tanpa mahram). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لايخلون أحدكم بامرأة فإن الشيطان ثالثهما

“Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua.”[6]

Solusinya gimana?

Bagaimana solusinya dengan keadaan lingkungan yang sekarang ini? Kantor campur-baur, sekolah campur-baur apalagi kampus?

Solusinya memang berat dan butuh perjuangan karena mau tidak mau, pasti kita bebas memandang, dan pandangan itu berat, berat dan berat. Tidak heran Karena Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 

النظرإلى محاسن المرأة سهم من سهام إبليس مسموم,  فمن صرف بصره عنهارزقه الله تعالى عبادة يجد حلاوتها

“Memandang kecantikan seorang wanita adalah panah beracun dari panah-panah iblis. Maka barangsiapa yang memalingkan pandangan  darinya, maka Allah akan memberikan di dalam hatinya sebuah kelezatan sampai pada hari Kiamat.”[7]

Maka kita bertakwa semampu kita,  Allah Ta’ala berfirman:

‏فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ‏.

 “Maka bertakwalah kalian kepada Allah sekuat kemampuan kalian.” (At-Taghabun: 16)

Misalnya di kehidupan kampus:

– Bergaul dan berinteraksi secukupnya dan secukupnya dengan lawan jenis

– Tidak banyak mengikuti kegiatan yang banyak bercampur-baur dengan lawan jenis

– Jika terpaksa berbicara dengan lawan jenis usahakan “biasa saja” tidak tunduk terus atau lihat atas terus, agar orang awam tidak merasa tersinggung atau dianggap aneh/gila atau bahkan bisa lawan jenis menjadi Ge-Er. Seraya berusaha berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan dan keselamatan hati.

Fitnah dunia maya tidak kalah dahsyatnya!

Dunia maya baru berkembang pesat beberapa tahun ini seiring kemajuan komunikasi dan kemudahan akses internet. Melalui media sosial sekarang laki-laki dan wanita lebih mudah berinteraksi dan bergaul. Begitu banyak sarananya: facebook, twitter, e-mail, BBM dan SMS. Bahkan lebih dahsyat karena bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan merasa lebih “aman”. Saling curhat, pendekatan hubungan gelap, perselingkuhan bahkan dilengkapi dengan kirim-kiriman foto dan video.

Padahal Islam sudah mengajarkan bagaimana cara berinteraksi. Ya, benar, sama dengan dunia nyata yaitu meminimalkan campur baur dan meminimalkan kontak dan hubungan laki-laki dan wanita yang bukan mahram tanpa keperluan dan kepentingan.

Berikut beberapa solusi ringkasnya:

– Hendaknya tidak menyimpan nomor Hape lawan jenis jika tidak ada kepentingan sama sekali, apalagi mencari diam-diam nomor hape wanita yang menjadi incarannya

– Tidak perlu menjadi teman dalam akun. (beberapa ustadz berpendapat bahwa bagi wanita mutlak tidak boleh mempunyai teman akun laki-laki non-mahram karena mereka lebih lemah hatinya, sedangkan laki-laki jika yang mendapatkan beban dakwah, maka dia melihat mashalah lebih jika dia menerima pertamanan dengan wanita, maka mereka bisa mendapatkan manfaat dari dia melalui postingan dan tulisannya, kemudian dia juga bisa menjaga diri misalnya sudah mempunyai istri, maka laki-laki seperti ini tidak mengapa mempunyai teman akun wanita,wallahu a’lam.)

– Tidak perlu memberi komentar kepada status atau twit lawan jenis non-mahram, seperti:

“Masya Allah, Ukhti tausyiahnya meneyntuh sekali, benar-benar lembut perkataannya”

“Ya akhi, begitu indahnya nasehat ini, seandainya saya bisa mendapat nasehat seperti ini setiap hari”

– Begitu juga dengan SMS dengan lawan jenis, apalagi pendekatan gelap berkedok agama:

“Ukhti, nanti saya kasi majalah yang membahas tentang masalah ini”

“Ukhti, jangan lupa shalat dhuha, nanti malam saya miscall buat shalat malam”

“Ukhti, saya bisa bantu permasalahan ukhti”

 

 Atau yang lebih parah:

“Saya bisa ajarkan ukhti bahasa arab langsung di masjid” 

“Kebetulan saya bisa komputer, nanti saya installkan programnya ke rumah ukhti”

– Jangan pula sering membahas dan membicarakan lawan jenis, misalnya: 

“ Si fulanah cantiknya 8 tapi si fulanah lebih cantik lagi ,nilainya 8,5 euy” 

“Si fulanah asalnya daerah A, sama dengan daerah antum” 

“Ada akhwat ngetop, akhwat kedokteran lho, katanya jadi asisten anatomi, dah lama ngaji, katanya sih banyak yang ngincer, namanya sampai universitas di pulau A …”  

Demikian juga akhwat jangan sampai jilbab dan cadar hanya sekedar ‘chasing’ penutup, tetapi dibalik hijab dan cadar mulutnya sibuk membicarakan laki-laki dan menggosipkan laki-laki dari A-Z. Ya, memang benar kata orang “wanita bermulut dua”. Jika laki-laki berkumpul hanya membicarakan kecantikan wanita dan nama serta asalnya, akan tetapi jika wanita yang kurang beriman berkumpul, maka ia bahas laki-laki tersebut dari A-Z dengan berbagai sumber gosip (bigos).

Sampai-sampai ada ikhwan yang berkata:

“Para akhwat lebih mengenal teman kita daripada kita mengenal teman kita sendiri”

Inilah pengakuan para istri-istri, dan maraji’  yang paling shahih menyatakan demikian, yaitu hadis kisah Ammu Zar’ dan Abu Zar’,:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ جَلَسَ إِحْدَى عَشْرَةَ امْرَأَةً فَتَعَاهَدْنَ وَتَعَاقَدْنَ أَنْ لاَ يَكْتُمْنَ مِنْ أَخْبَارِ أَزْوَاجِهِنَّ شَيْئًا

“Dari ‘Aisyah berkata bahwa Sebelas orang wanita berkumpul lalu mereka berjanji dan bersepakat untuk tidak menyembunyikan sedikitpun kabar tentang suami mereka.[8]

– Begitu juga dengan CP kajian ikhwan-akhwat. Ikhwan CP kajian leluasa bertanya-tanya dengan akhwat CP kajian. Padahal ia bisa bertanya dengan orang lain. Maka, sebaiknya CP kajian adalah ikhwan-akhwat yang sudah menikah. Atau jika tidak ada, sms melalui perantara mereka. Ingat saat kajian pandangan mungkin bisa dihijab, tetapi hati sulit dihijab dibalik Handphone atau Facebook.

– hati-hati main kontak melalui inbox Facebook atau sms, terutama pada “Ikhwan Gadungan Mendadak Ustadz”. Misalnya rayuan:

“Ukhti, anti sudah menikah belum? Atau sudah ada calon?”

“Saya sedang merasa kesepian ukh, sepertinya hampa hidup ini, kayaknya ada yang kurang”

Atau yang parah, mengirim puisi atau kata-kata romantis,

“Seandainya istri saya kelak semisal ukhti, pastilah terisi kehampaan hidup dengan mata air kebahagiaan”

“Siapa yang tidak bergetar hatinya, menerima sms dari ketikan tangan yang lembut lemah-gemulai yaa ukhti”

Ketahuilah ya ikhwan, akhwat itu cepat GR “Gede Rasa”, merasa diperhatikan oleh orang lain. Apalagi yang memperhatikan lawan jenis. Wanita itu makhluk yang sangat manja dan sangat butuh perhatian tetapi jual mahalMemalingkan mukanya tetapi hakikatnya sangat ingin menoleh. Mereka cepat GR karena memang hati mereka lemah, semisal kaca sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan wanita dengan kaca. Beliau bersabda,

رْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ

“Lembutlah kepada kaca-kaca (maksudnya para wanita)”[9]

Demikianlah risalah yang ringkas ini.
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam

@Lab Patologi Klinik RS Sardjito,7 Sya’ban 1434 H
Penyusun:  dr. Raehanul Bahraen
Artikel www.muslimafiyah.com

[1] HR Abu Daud no 4101; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani
[2] HR. Bukhari no.80
[3] HR. Bukhari no.5096 dan Muslim no.7122
[4] HR. Ahmad no.26195, hasan lighairihi, tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth
[5] HR. Abu Dawud no.2134, dihasankan oleh Syaikh Albani
[6] HR. Ahmad 1/18, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430
[7]HR. Ahmad
[8]HR. Bukhari V/1988 no 4893 dan Muslim IV/1896 no 2448
[9]HR Al-Bukhari no 5856, Muslim no 2323, An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubro no 10326 dan ini adalah lafal An-Nasa’i

“Tidaklah berdoa seorang muslim terhadap saudaranya secara ghaib (tanpa diketahui oleh saudaranya itu) melainkan akan berkatalah para malaikat, engkau juga beroleh yang seumpama dengannya.” (HR. Muslim)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s