Rambu-Rambu Keinginan [Aa Gym]

Adalah sangat normal kita punya harapan dan keinginan, karena harapan dan keinginanlah yang memacu kita untuk mau berbuat sesuatu. Tetapi menjadi tidak normal andaikata kita diperbudak oleh keinginan kita. Mencarinya membuat kita lupa diri, ketika mendapatkannya membuat kita kufur terhadap nikmat yang diberi, dan ketika tidak diberi membuat kita kecewa tiada henti.

Oleh karena itu kita harus tahu dimana rambu-rambu keinginan, dimana rambu-rambu kita bisa menikmati mana yang terbaik menurut kita atau menurut Allah.

Simak ayat Alquran dalam Albaqarah ayat 216 أَعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ  :

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang lebih baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai pada sesuatu padahal itu amat buruk bagimu, dan Allah Yang Maha Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Seorang Ahlul Hikmah [Syeikh Ibnu Athoillah as Sukandari, KItab Al Hikam] pernah berkata:

‘Janganlah kelambatan masa pemberian Allah kepadamu padahal engkau bersungguh-sungguh dalam berdoa menyebabkan patah harapan sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang dia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, dan pada waktu yang ditentukannya bukan pada waktu yang engkau tentukan’

Janganlah ketika harapan tidak terwujud membuat kita patah semangat, membuat kita berburuk sangka padahal kita sudah berdoa. Jangan risau karena semua doa kita dijamin oleh Allah akan dikabulkan, sepanjang syaratnya terpenuhi, tetapi bentuknya, bukan yang terbaik menurut kita, tapi terbaik menurut Allah, karena baik menurut kita, belum tentu terbaik menurut Allah.

Waktunya, yang paling tepat itu menurut Allah bukan menurut kita, karena Allah Maha Tahu tingkat keimanan kita, mental kita, keilmuan kita, — seperti memberikan granat kepada seorang anak yang merengek-rengek minta granat, tentu orang tua yang keji, memberikan sesuatu kepada anak yang keinginannya tidak sesuai dengan kemampuan dan keperluannya. Mungkin dalam peperangan dibutuhkan tetapi apa anak kecil membutuhkan saat ini? Oleh karena itu kalau sesuatu yang kita inginkan belum terwujud, tidak terjadi, atau bahkan sebaliknya , itu BUKAN berarti tidak dikabulkan oleh Allah, TIDAK LAYAK kita kecewa dan berburuk sangka.

Ingat keterangan dari Allah  dalam surat Albaqarah 216.

Maka, silahkan berkeinginan sepanjang keinginannya yang disukai Allah, tetapi ingat, yang terbaik hanyalah menurut Allah SWT.

Ada hadits dari Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, yang artinya..

‘Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima oleh Allah doanya, atau dihindarkan daripadanya bahaya, atau diampunkan sebagian dosanya, selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang berdosa atau untuk memutus suatu hubungan famili’

Demikian, berarti kalau kita berdoa, sepanjang tidak memakan makanan haram, doa kita pasti diijabah, hanya harus diingat, DOA itu PUPUK, yang penting untuk menumbuhkan tanaman adalah BIBIT, ada PUPUK tidak ada BIBIT tidak akan tumbuh apa-apa, oleh karena itu , BIBIT dari semua DOA adalah IKHTIAR kita,

SEMPURNAKAN IKHTIAR, BARENGI DENGAN KESEMPURNAAN DOA, sesudah itu SEMPURNAKAN TAWAKKAL.

Saudaraku, pentingnya bagi kita untuk meyakini bahwa doa itu diterima, atau dihindarkan dari bahaya atau mungkin nanti, oleh Allah diberikan di akhirat nanti, atau yang semisal dengan itu tetapi bentuknya berbeda, sepanjang suatu doa, bukan doa kemaksiatan atau doa memutuskan silaturahim.

Ini penting, jadi keinginan adalah baik, tetapi jangan sampai, ‘’sok tahu’’ dengan keinginan kita. Kita berkeinginan adalah karunia Allah, karena orang yang tidak punya keinginan tidak normal. Bolehkah kita ingin duniawi, banyak yang bisa kita inginkan.. Ingin duniawi boleh? Boleh.. Sepanjang, NIAT dan CARA’nya benar.

Ahh… saya ingin punya mobil, tetapi untuk apa punya mobil? untuk memudahkan urusan, untuk menolong orang. Niat saja sudah jadi amal, kalau untuk kebaikan.

Saya ingin menikah, waah.. menikah itu ibadah.. boleeh. Perkara JADI atau TIDAK’nya nikah, karena mungkin keburu ‘mati’ itu sudah lain urusan..

Jadi ingin dunia boleh, yang paling tepat dunianya jadi amal akhirat

  • Ingin banyak uang, supaya bisa banyak bayar zakat, banyak sodaqoh
  • Ingin punya rumah banyak, supaya bisa nampung banyak anak yatim, menolong banyak orang yang tak punya tempat berteduh
  • Ingin punya perusahaan besar, supaya bisa menampung orang kerja, supaya para suami punya harga diri di depan istri dan anak-anaknya

Kita ingin dunia yang dipakai bekal akhirat, itu baru inginnya ajah jadi amal.

Keinginan lain yang lebih tinggi adalah, ingin masuk surga, itu sangat baik. Ada lagi yang lebih jelas, saya ingin nanti di akhirat  berjumpa dengan Allah SWT. , pokoknya saya lakukan apa saja yang penting Allah ridho dan saya bisa ketemu dengan Allah.

Makin tinggi keinginannya lebih dari duniawi; ingin menjadi ahli surga, ingin berjumpa dengan Allah, maka pengorbanan dunia akan menjadi ringan.

Rekan2 ingin dapat bidadari? Diberi wajah pas-pasan tidak jadi masalah, biar.. saya mah kata orang wajahnya pas pasan, yang penting dapat bidadari di surga. Teman, bisa jadi ladang amal, walaupun kadang ada terluka hati oleh teman, kalau sasarannya akhirat, tujuannya akhirat, bisa disikapi dengan sangat sabar.

Orang-orang yang cita-citanya lebih tinggi dari harta, kedudukan, pangkat, jabatan, popularitas, terus lebih tinggi dari pahala, adalah SURGA dan berjumpa dengan Allah, maka ITULAH sebaik cita-cita, yang membuat hidup ini menjadi lebih ringan!

Tetapi makin rendah cita-citanya, hanya sekadar ingin DUNIAWI; harta, gelar, kasih sayang manusia, itu akan banyak lelah dalam hidup ini, makanya menentukan keinginan, menentukan cita-cita, akan membuat kita bisa menikmati hidup ini atau tidak,

..dan walaupun kita sudah berkeinginan, tetap, kalau untuk urusan duniawi, etikanya APA YANG TERBAIK MENURUT ALLAH, itulah yang harus kita nikmati. Tugas kita adalah

  • Meluruskan niat,
  • Menyempurnakan ikhtiar
  • Faiza azamta, fatawakkal alallah.. Luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, dan serahkan urusannya kepada Allah SWT.

Itulah mudah-mudahan.. membuat kita semakin, bisa menikmati keinginan kita, karena ‘’KEINGINAN adalah PENGANTAR kita BERAMAL SOLIH’’ , sedangkan KETENTUAN itu URUSAN ALLAH Yang Maha Tahu segala yang terbaik bagi kita.

Sahabat-sahabatku, terdapat ahli hikmah yang mengatakan.

‘Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu tiba masanya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan nuur cahaya hatimu’.

Keraguan kita.. kekecewaan kita.. Itulah yang akan membuat hati kita mengeras, tidak nyaman orang yang tidak rihdo dengan ketentuan Allah, oleh karena itu.. tetap harus kita jaga.. khusnudzon/ berbaik sangka kepada Allah, pasti ada hikmahnya, pasti Allah Maha Adil, pasti tidak akan disia-siakan.. Contoh: seorang ibu, mendidik anak, sudah diurus baik-baik, sudah didoakan siang dan malam, belum saja terbalik hatinya.. malah terkadang mempermalukan, beraat sekali.. Apakah ibu sia-sia? TIDAK. Semua jerih payahnya itu lengkap disisi Allah, setiap doa-doanya didengar oleh Allah. ‘Tetapi kenapa kok anak saya belum soleh juga?’ Allah sudah menyiapkan masa yang paling tepat, dimana nanti ketika anak itu soleh, mungkin ketika sang ibu ada, mungkin ketika sang ibu tadi wafat.

Ketika wafat, sang ibu tidak rugi apapun walau sang anak belum keliatan solehya. Mungkin wafatnya sang ibu dibalikkan hatinya, baik sesudah itu tingkat kesadarannya si anak, oleh karena itu.. tidak boleh patah semangat, tidak boleh sakit hati, walaupun sempurnanya ikhtiar kita, menurut kita belum membuahkan hasil. Contoh lain; ketika kita berobat ke dokter, rumah dijual, kendaraan dijual, tanah dijual, tetapi belum sembuh juga, minta kepada Allah siang dan malam, dzikir terus.. ‘Kenapa ya Allah.?’ Kalau kita tidak ridho jual rumah disebut-sebut, saya sudah jual tanah, sudah jual rumah, habis semua sekian puluh juta; Itu semua BUKAN uang kita, uang TITIPAN Allah, yang memang jauh-jauh sebelum kita sakit sudah disediakan, itu sudah memang rezeki yang di rumah sakit kan banyak orang; yang harus mendapatkan jatah rezekinya lewat sakitnya kita..

Kalau kita sabar, kita ridho, kita terus menyempurnakan ikhtiar, tidak pernah patah semangat, kita tidak pernah kehilangan apapun walaupun hitungan sepertinya berkurang. Tapi insyaallah, DOSA HABIS, PAHALA BANYAK, dan akan datang saatnya diganti, dalam bentuk yang TIDAK TERBAYANGKAN oleh kita, tetapi PASTI; LEBIH BAIK, LEBIH UTAMA, daripada yang kita duga.

Oleh karena itulah sahabat-sahabatku sekalian, uraian-uraian ini semoga membuat kita bisa memilah; kapan kita punya keinginan, untuk apa keinginan kita, bagaimana mencapai keinginan kita,.. tetapi bersamaan dengan itu, harus ada persiapan mental, persiapan iman, bahwa INI amal kita hanyalah meluruskan niat, menyempurnakan ikhtiar, selebihnya BIARLAH ALLAH Yang Maha Tahu yang terbaik, APAPUN yang terjadi, tidak usah kecewa terhadap ketentuan Allah, tetapi jadikan sebagai BAHAN EVALUASI dan BAHAN UNTUK BERSUNGGUH-SUNGGUH MEMPERBAIKI DIRI.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s