Kisah Abdurrahman bin ‘Auf

Abu Sa’id mengatakan, “Suatu waktu terjadi perselisihan antara Kholid bin Walid dan Abdurrohman bin ‘Auf, lalu Kholid mencelanya. Tatkala berita itu sampai kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam, beliau mengatakan, “Janganlah kalian mencela sahabatku! Sesungguhnya seandainya salah satu dari kalian berinfak sebesar gunung uhud berupa emas, maka tetap tidak sebanding dengan infaknya Abdurrohman bin ‘Auf”.

Beliau bernama Abu Muhammad Abdurrohman bin ‘Auf bin Abdi ‘Auf bin Abd bin al-Harits bin Zahroh bin Kilab bin Murroh, di masa jahiliyah beliau dipanggil Abdu Amri atau Abdul Ka’bah. Kemudian setelah ke-Islamannya Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mengganti nama beliau menjadi Abdurrahman.

Dan dialah Abdurrahman bin ‘Auf yang akan menorehkan tinta emas sejarah kejayaan Islam di periode pertama umat ini. Abdurrahman bin ‘Auf juga merupakan salah satu dari delapan orang yang pertama kali masuk Islam dan salah satu dari sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk surga. Abdurrohman bin ‘Auf masuk Islam sebelum Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam masuk ke Darul Arqom dua hari setelah ke-Islaman Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Cobaan dan gangguan di jalan Allah tak luput dari dirinya, sebagaimana yang diterima kaum muslimin di awal-awal masuk Islam. Hingga akhirnya ia menyelamatkan agamanya ke negeri Habasyah bersama kaum Muslimin lain. Mereka tetap sabar melintasi rintangan dan halangan. Mereka yakin bahwa setiap duri yang mereka temui tersebut tidak lain adalah yang menjadi saksi akan ketinggalan derajat mereka kelak di sisi Rabbnya.

Dan tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mengijinkan para sahabat untuk hijrah ke kota Madinah, ia termasuk para Muhajirin yang berhijrah untuk Allah dan Rasulullah. Sesampainya di Madinah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mempersaudarakan Abdurrahman bin ‘Auf dengan salah seorang muslim Anshor, Saad bin Robi’. Sa’ad berkata kepada Abdurrohman, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku adalah di antara penduduk Madinah yang terkaya, aku memiliki dua kebun dan dua istri. Lihatlah salah satu dari dua kebun itu yang terbaik hingga akan aku berikan kepadamu dan lihatlah salah satu istriku yang engkau suka maka aku akan ceraikan dia lalu engkau bisa menikahinya”. Namun, Abdurrahman bin ‘Auf menjawab tawaran baik saudaranya, “Tidak, semoga Allah memberkahimu, harta, dan juga keluargamu. Tetapi tunjukkan saja aku di mana letak pasar kalian”. Lalu ditunjukkan kepada beliau, kemudian beliau bekerja dan berdagang, dan dapat mengais Rizki Allah yang melimpah.

Tidak berselang lama, Abdurrahman bin ‘Auf telah meminang seorang wanita Anshor lalu menikahinya, kemudian beliau datang menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam dengan wangi-wangian khas pengantin. Maka Rasulullah bertanya keheranan, “Ada apa ini?” Ia menjawab, “Aku baru saja menikahi wanita Anshor.” Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bertanya lagi, “Berapa besar mahar yang engkau berikan?” Ia menjawab, “Seukuran satu nawat emas.” Lalu terucaplah dari bibir Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam sebuah sunnah dari ummat ini di hari yang paling bahagia, yang sunnah itu akan tetap hingga hari kiamat, “Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing.”

Kedermawanan Beliau

Perang tabuk adalah peperangan terakhir yang diikuti Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam semasa hidupnya tatkala itu kebutuhan materil tidak sebanding dengan kebutuhan personel karena pasukan Romawi adalah pasukan yang besar materil dan personelnya, padahal tahun itu adalah musim paceklik di kota Madinah, sedang perjalanan panjang dan perbekalan sedikit. Karena materil yang ada lebih sedikit dari jumlah personelnya, tatkala sekelompok kaum mukminin memberanikan diri datang kepada Nabi meminta izin untuk berangkat ke tabuk padahal mereka tidak memilki bekal yang dapat membawa mereka ke sana Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam menolak mereka karena tidak adanya perbekalan. Akhirnya mereka kembali sedang air mata mereka mengalir karena sedih tidak ada yang dapat mereka infakkan. Merekalah yang disebut dengan para bakkain (sahabat miskin yang menangis) dan di sebutlah pasukan perang tersebut sebagai pasukan jaisyul ‘usroh (pasukan berat) karena beratnya persiapan baik materiil dan personel di musim paceklik panjang

Disaat-saat itulah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam menganjurkan para sahabatnya untuk berinfak di jalan Allah dan mengharap pahala besar dari Allah. Berbondong-bondong begitulah kaum muslimin menjawab anjuran dan seruan Nabi mereka. Abdurrohman bin ‘Auf termasuk deretan penyumbang. Ia menyumbang 200 ukiyah emas, sampai-sampai Umar berkata, “Sungguh aku melihat Abdurrohman bin ‘Auf telah berdosa, ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk sanak keluarganya.” Sampai-sampai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bertanya, “Apakah sudah ada yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?” Beliau menjawab, “Iya, aku tinggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak dari yang aku infakkan dan jauh lebih berharga”, “Berapa jumlahnya?” Beliau menjawab, “Apa yang Allah dan Rosul-Nya telah janjikan berupa pahala rezeki dan kebaikan.”

Pada kesempatan yang lain Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam hendak menyiapkan Sariyyah maka beliau kembali membangkitkan semangat infak para sahabat seraya mengatakan, “Bersedekahlah, bersedekahlah, karena aku hendak mengutus suatu pasukan!” Maka bersegeralah Abdurrahman bin ‘Auf ke rumah lalu kembali dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki 400.000 dinar, yang 200.000 aku sedekahkan dan 200.000 lagi aku tinggalkan untuk keluarga aku. Kemudian terucaplah do’a dari lisan Rasulullah yang mulia, “Semoga Allah memberkahi (hartamu) baik apa yang engkau berikan atau apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu.”

Sungguh Allah mengabulkan do’a yang diucapkan oleh lisan Nabinya. Maka lihatlah pada suatu hari datanglah sekelompok (kafilah) dagang milik Abdurrohman bin ‘Auf ke kota Madinah sedang mereka berjumlah 700 penunggang yang membawa semua kebutuhan manusia dan perhiasan. Tatkala mereka masuk kota Madinah, bergetarlah bumi Madinah dan terdengarlah suara gemuruh. Ketika ditanyakan, “suara apakah itu?”, lalu dijawab, “Kelompok (kafilah) dagang milik Abdurrohman bin ‘Auf sebanyak 700 unta yang memikul gandum, tepung, dan semua kebutuhan hidup manusia.”

 

Keutamaan-Keutamaan Beliau

Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga. Adakah nikmat yang lebih menggembirakan daripada surga Allah?

Nabi Shalallahu’alaihi Wassalam telah mendo’akan beliau untuk meminum dari air sungai surga. Berkata Ummu Salamah, “Sesungguhnya yang akan menyokong kalian sepeninggalku adalah seorang yang jujur lagi mulia. Ya Allah berilah minum Abdurrohman bin ‘Auf dari sungai surga.” Dari Salamah dia mengatakan bahwa suatu hari Abdurrahman bin ‘Auf telah mewasiatkan suatu kebun yang diberikan kepada Ummahatul Mukminin (Istri-istri Rasulullah) lalu kebun itu dijual dengan harga 400.000 dinar.

Beliau adalah salah satu dari enam sahabat ahlu syuro (pemegang keputusan) yang dikabarkan oleh sahabat Umar bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam meninggal dunia sedang beliau ridho dengan mereka. Berkata sebagian sahabat tatkala Umar terbaring di ranjang yang di sanalah beliau meninggal dunia, “Berwasiatlah wahai Amirul Mukminin, pilihlah siapa penggantimu!”, Beliau menjawab, “Sama sekali saya tidak berhak dalam perkara ini, padahal ada di sana sekelompok sahabat Rasulullah yang beliau meninggal dunia sedang beliau ridho dengan mereka”. Lalu beliau menyebutkan mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Tholhah bin ‘Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrohman bin Auf.

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam pernah mengadakan pembelaan untuknya

Abu Sa’id mengatakan, “Suatu waktu terjadi perselisihan antara Kholid bin Walid dan Abdurrohman bin ‘Auf, lalu Kholid mencelanya. Tatkala berita itu sampai kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam, beliau mengatakan, “Janganlah kalian mencela sahabatku! Sesungguhnya seandainya salah satu dari kalian berinfak sebesar gunung uhud berupa emas, maka tetap tidak sebanding dengan infaknya Abdurrohman bin ‘Auf”.

Rasulullah pernah sholat di belakang (bermakmum) kepada Abdurrohman bin ‘Auf. Mughiroh bin Syu’bah menceritakan, “Tatkala kami berangkat perang tabuk, sebelum sholat shubuh pergilah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam untuk buang hajat, maka aku bawakan air untuk beliau bersuci dengannya. Ketika aku dan Rasulullah kembali, kami menjumpai para sahabat telah menunjuk Abdurrohman bin ‘Auf untuk menjadi Imam menggantikan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam dan kami masih mendapati satu rokaat terakhir. Setelah Abdurrohman bin ‘Auf membaca salam maka Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bangkit berdiri menyempurnakan 1 rokaat yang tertinggal, maka spontan para sahabat terperanjat, hingga mereka memperbanyak tasbih. Tatkala Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam telah selesai dari sholatnya, beliau berbalik menghadap para sahabat seraya mengatakan, “Sungguh kalian telah benar”, seolah-olah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam mengatakan memang hendaklah kalian sholat tepat di awal waktunya.

Ketawadhu’an Beliau

Abdurrohman bin ‘Auf sekalipun sebanyak itu harta yang telah diinfakkan di jalan Allah, suatu hari ia muhasabah (menghitung kebaikan diri), beliau mengatakan, “Dahulu kami bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam diuji dengan kesulitan, maka kami bersabar, kemudian sekarang kami diuji dengan kelapangan rizki sedang kami tidak bersabar darinya”.

Suatu hari didatangkan kepada Abdurrohman bin ‘Auf makanannya untuk berbuka, namun beliau mengatakan, “Telah terbunuh Mush’ab bin Umair dan beliau adalah orang yang lebih utama dariku, sedang tidak dijumpai kain kafan untuknya, kecuali kain yang tidak mencukupinya, dan telah terbunuh Hamzah dan beliau adalah orang yang lebih utama dariku sedang tidak dijumpai kain kafan untuknya kecuali kain yang tidak mencukupinya. Sungguh aku sangat khawatir kalau kepadaku telah disegerakan balasannya dengan dimudahkannya urusan dunia ketika aku di dunia ini.” Hingga beliau menangis dan tidak jadi menyentuh makanan tersebut.

Maka demikianlah keindahan suasana hidup bersama para sahabat Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam bagi mereka yang diberi keluasan, mereka bersyukur dan kepada mereka yang diuji kesempitan, merekapun bersabar.

Posted by
Radio Sunnah Kita 94.3 FM
on September 24, 2013

Disusun oleh Ustadz Hamzah Ta’adi, Kabid Dakwah Yayasan Ponpes Assunnah Cirebon dan Pemateri Radio Kita FM, dari Majalah Al Bayan Edisi 8.
Maraji` :
Shuar min Hayati Shahabah
Bidayah wa An-Nihaya
Rijalun Haula Ar-Rasul


2 thoughts on “Kisah Abdurrahman bin ‘Auf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s