Karena Sekadar Hidup Saja Belum Cukup

Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja – Hamka

Setiap kita dikaruniai ukuran waktu yang sama yaitu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, dan 365 hari dalam setahun. Sungguh suatu kenikmatan yang tak ternilai harganya. Namun, acapkali kita lupa bertanya, mengapa Allah memilih kita tuk lahir kedunia ini? Mengapa diantara jutaan sel sperma terpilih satu yang berhasil dibuahi dan itu tiada lain ialah kita hari ini? Dan kini, saat kita telah turun di bumi Allah, adakah kiranya kita sadari bahwa ada misi dari-Nya yang kita emban?

Setiap makhluk ciptaan Allah tiadalah yang sia-sia. Tumbuhan, hewan seperti nyamuk sekalipun ada tujuan dan manfaat yang Allah maksudkan, apalagi kita sebagai manusia. Saya pribadi meyakini bahwa Allah pasti memiliki tujuan kenapa saya dilahirkan. Ada ungkapan mengatakan bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu. Yaa tentu saja, Allah sedang menunggu karya-karya dan kemanfaatan yang bisa kita persembahkan di dunia ini. Kesemuanya itu bukanlah untuk-Nya tapi untuk kita sendiri sebagai bekal saat menghadapnya di persidangan nanti.

Porsi waktu yang kita miliki di dunia ini amatlah sedikit. Seandainya satu hari di akhirat itu adalah seribu tahun di dunia, maka jelaslah di dunia ini hanya sekejapan mata saja. Hari ini kita ada, gagah dan masih muda, lalu tak pernah terasa  di suatu masa kita menjadi tua. Jatah usia setiap kita mungkin sama, tapi bertanyalah, mengapa hasilnya berbeda. Jangan tanya pada jam di tangan kita apalagi memaki jam dinding di kamar kita, tapi masuklah ke relung hati kita. Duduk disana, merenung sejenak, sisakan hanya diri kita seorang. Lalu mulailah rinci setiap detik yang menguap, setiap jam yang hilang dan setiap sisa umur yang berkurang. Kemanakah ia dan ada apa saja di sepanjang lintasannya. Pastikan kita tak seperti yang sekadar dikatakan Hamka, bahwa hidup hanya sekadar hidup, bekerja hanya sekadar bekerja. Jikalau sama, berarti tak ada beda antara kita dan penghuni hutan rimba.

Ingatlah bahwa yang terjauh bukanlah Eropa atau Kutub Utara, namun satu detik yang telah berlalu adalah yang terjauh dari kita. Ingatlah selalu bahwa setiap untaian nafas potongan detik akan ditanyai dihadapan-Nya. Maka mari kita pastikan bahwa ia memiliki arti, bukan di dunia semata tapi juga di hadapan-Nya. Karena ketahuilah bahwa, sekadar hidup saja belumlah cukup.

Sumber gambar:
http://nooreva.deviantart.com/art/Desa-Kita-346285485


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s