Minat Baca Indonesia Rendah, Ini Fakta dan Datanya

Tulisan ini merupakan kritik bagi diri saya sendiri, sebagai alumni program studi Ilmu Perpustakaan, sebagai masyarakat Indonesia yang merasa sangat prihatin dan terpanggil dengan kondisi minat baca kita hari ini.

Seandainya sebuah pertanyaan menghampiri Anda, Sudahkah Anda membaca buku hari ini?

Pertanyaan itu layak kita jawab. Namun sebelum itu saya ingin mengulas mengenai seberapa parahkah kondisi minat baca orang Indonesia.

Membaca adalah jendela dunia. Agaknya slogan itu tidak laku di negara seperti Indonesia ini. Dikutip dari sehabooks.com, berikut ini merupakan fakta dan data minat baca Indonesia dari tahun ke tahun.

  • Tahun 1991, merujuk pada laporan International Association for Evaluation of Educational dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV di 30 negara di dunia, Indonesia berada di ututan ke 29 setingkat di atas Venezuela.
  • Tahun 1995, survei oleh Departemen Pendidikan Nasional menyatakan 57 persen pembaca dinilai sekadar membaca, tanpa memahami dan menghayati apa yang dibacanya.
  • Tahun 1998, studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah laporan pendidikan “Education in Indonesia from Crisis to Recovery menunjukkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas IV sekolah dasar di Indonesia, hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7% setelah Filipina dengan 52,6%, Thailand 65,1%, Singapura 74,0% dan Hongkong memperolah 75,5%.
  • Tahun 2002, Penelitian Human Development Index (HDI) oleh UNDP menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi itu turun satu tingkat menjadi 111 pada tahun 2009.
  • Tahun 2003, laporan UNDP dalam Human Development Report – Human Development Index (HDI) berdasarkan angka buta huruf menunjukkan, pembangunan di Indonesia menempati urutan yang ke 112 dari 174 negara di dunia. Sedangkan vietnam menempati urutan ke 109 padahal negara itu baru saja melewati konflik yang cukup besar, namun vietnam lebih yakin dengan membangun manusianya sebagai prioritas terdepan akan mampu mengejar ketertinggalan yang selama ini mereka alami.
  • Tahun 2006, studi lima tahunan oleh Progress in International Reading Literacy Club (PIRLS) yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), Indonesia hanya menempati posisi 36 dari 40 negara sampel penelitian. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan.
  • Tahun 2006, data Biro Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi. Masyarakat diketahui lebih memilih menonton televisi (85,9%) dan/ atau mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%).
  • Tahun 2009, data dari Organisasi Pengembangan Kerjasama Ekonomi (OECD), budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.
  • Tahun 2011, survei dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya satu dari seribu orang di Indonesia yang punya minat baca serius. Alhasil, hal ini membuat pada tahun 2012 Indonesia nangkring di posisi 124 dari 187 negara dunia dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek huruf’.

[to be continued]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s