“Jangan Genit”, Pesan Bijak Ibunda para Dhuafa

Ditemani bunyi jarum detik jam dinding yang terus mengikuti sejak tadi, terlintas memori yang masih melekat erat di alam pikir saya tentang nasihat seorang nan bijak dari bu Nuk, ibunda kami para Dhuafa.

Sejenak saya pribadi masih terkenang oleh hangatnya pembinaan pagi, riuhnya pembinaan pekanan yang mempertemukan kami lintas angkatan, sibuknya wara-wiri mengurus desa binaan dan program kemanfaatan kami, dan belum lagi moment bersih-bersih asrama, hingga acara nobar kesebelasan favorit yang selalu mengundang tawa dan teriakan semangat yang tak pernah padam. Saya rindu kebersamaan di ‘Beastudi Etos’.

Meskipun hanya mampir setahun sekali ketika monitoring dan evaluasi tahunan ke asrama kami, tetapi sosok beliau memang selalu menjadi inspirasi bagi kami sepanjang masih menjadi etoser, bahkan disaat kami telah menjadi alumni. Tak terkecuali di hari ini, Sabtu 22 Agustus ’15 digelar acara silaturahmi para penerima manfaat beasiswa Dompet Dhuafa. Tak hanya beastudi etos namun hadir pula kawan-kawan dari beasiswa aktivis nusantara, sekolah gratis kaum dhuafa Smart Ekselensia, beasiswa kemitraan, dan penerima manfaat lainnya dari program pendidikan Dompet Dhuafa.

Apalagi yang lebih menarik dari sebuah acara reuni selain saling bertukar kabar, berbagi cerita, dan tentu saja mengeratkan kembali tali silaturahmi. Tetapi bagi saya acara hari ini begitu istimewa, karena lebih dari itu hari ini tak hanya melepas rindu melainkan menjadi moment berbagi inspirasi. Bang Ivan Ahda alumni etos ’03 berbagi mengenai FIM (Forum Indonesia Muda), Mas Ardiansyah alumni etos ’06 bercerita tentang Ilmu Berbagi, dan dilengkapi oleh para inpsirator lainnya yang telah berhasil menebar manfaat di penjuru negeri, dan yang paling penting disini beliau hadir untuk kembali menjawab kerinduan kami para ananya yang telah naik timbangan dan menyandang status alumni.

Bang Ivan melalui FIM’nya telah membawa anak-anak muda dari penjuru negeri menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa, tangguh, kritis, mengajarkan mereka berpikir dan berbuat untuk bangsa.

“Setiap inisiatif baik tidak cukup hanya dengan niat, mulailah dengan apa yang dimiliki,” – Ivan Ahda

Dunia pasca kampus –begitu orang menyebutnya– selalu memberikan kado rahasia bagi siapapun yang menjalaninya. Orang kadang tak pernah tahu apa yang ia hadapi dan bagaimana sesuatu bermula lalu bagaimana kejadian akhirnya. Bang Ivan, Mas Ardy, Bang Timi —founder kitabisa.com yang juga hadir sbg pembicara– telah membuktikan bahwa hidup bukan sekadar tentang kita, tapi tentang mereka. Di lain sisi, sehari sebelumnya, ada kisah dua orang anak muda yang sedang berdebat soal masa depan mereka, antara pilihan kuliah lagi, fokus bisnis, atau berevolusi sementara menjadi ‘amfibi’ sebelum akhirnya setia pada satu impian.

Pernah tahu bahwa ibu dan anak itu punya yang namanya chemistry. Sampailah waktunya sesi presentasi oleh Bu Nuk. Panjang lebar beliau bercerita, hingga terkuaklah masa kuliah S2 Psikologi yang beliau alami di tahun 1991. Experience is the best teacher, buku sinar dunia mengajarkan saya. Dengan fokus saya dengarkan cerita beliau, bahwa ada satu teman kelasnya dulu yang sama sekali belum pernah bekerja lalu mengambil studi S2. Pengalaman bekerja amat menentukan kemampuan daya pikir dan olah kasus seseorang di dunia nyata, dan ini terjadi pada temannya itu. Berbeda dengan beliau dan kebanyakan peserta di kelas tersebut yang lebih dulu merasakan bekerja sebelum kuliah S2, temannya ini yang langsung kuliah ini sangat teoritis dan kesulitan memecahkan sebuah permasalahan berbasis kasus. Kenapa? Yap. Tiada lain karena pengalaman selalu mengajarkan hal baru dari sebuah kenyataan hidup, bukan teori.

“Jangan genit buru-buru S2, ibu sarankan kalian pilihlah bekerja dulu”  – Bu Nuk

Saya berharap tulisan ini bukan di pandang sebagai justifikasi dan menghakimi orang yang mengambil pilihan untuk kuliah master setelah lulus sarjana, karena saya yakin adapula orang di luar sana yang berhasil dengan pilihan kuliah master mereka. Juga mudah-mudahan bukan sebuah excuse atau alasan bahwa kita tidak mampu menempuh kuliah master — seandaipun ingin berkuliah lagi–. Tetapi pentingnya disini adalah memandang arti pengalaman sebagai sesuatu yang amat menunjang kemampuan kita untuk sukses menjadi apapun, dan pengalaman ini bisa didapat salah satunya dari dunia pekerjaan.

Pun ketika berbisnis menjadi pilihan seteh lulus. Saya secara pribadi menjadi berpikir kembali —rethinking karena begitu banyak pula para pebisnis handal yang lahir setelah berguru di dunia kerja untuk beberapa waktu, Nadhiem Makarim CEO Gojek, William Tanuwijaya CEO Tokopedia Muadzin Jihad CEO Semerbak Coffee, dan masih banyak yang lainnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s