Profile

sur_semangat

Bagi saya hidup adalah karunia Allah yang mesti kita syukuri, dengan senantiasa meracik nikmat yang kita dapat itu menjadi bernilai produktif yang berbuah kebermanfaatan pada orang lain

Achmad Suryadi, begitulah kedua orang tua saya memberikan nama yang hingga hari ini masih terpatri dalam raga ini. Sungguh kesyukuran yang luar biasa terlahir dari keluarga muslim, hingga nama depan achmad, yang artinya “terpuji”.

Dengan akhiran surya-di, ibu tercinta,  Mugiyati -the most special moment in my life- menyampaikan bahwa nama itu terinspirasi dari sang surya, yaitu matahari yang maknanya bisa menerangi, menerangi hidup diri sendiri dan orang lain. Ayahku pun ada ‘unsur’ matahari, dengan nama Syamsudin. Nama itu sekaligus teradopsi dalam akhiran nama saya, suryadi. Terlahir satu hari menjelang hari pendidikan nasional, yaitu 1 Mei tahun 1991, aku besar menjadi seorang pribadi yang “ditakdirkan” untuk berjuang mengenyam pendidikan dengan keringat dan darah (hehe.. agak lebay).

Satu hal yang paling berkesan, saat saya harus berjuang mewujudkan mimpi untuk bisa berkuliah. Selepas lulus SMA hari-hari saya habiskan untuk melamar kerja ke sana dan kemari. Menjadi pekerja supermarket pernah saya lakoni. Hanya 3 minggu, fisik saya roboh. Aktivitas menguras tenaga yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Mengangkat barang dari gudang hingga ke toko berbalik-balik saya lakukan setiap hari, saya pun sakit. Beberapa pekan berselang, kembali saya melamar pada sebuah minimarket. Alhamdulillah dari 5 rangkaian tes, 4 diantaranya lolos.

Namun sayang, Allah berkehendak lain. Di hari tes terakhir, yaitu tes wawancara. Sebuah pertanyaan menghampiri, interviewer bertanya pada saya “Andaikan Anda saya tempatkan bekerja pada satu wilayah di Banten, apakah cita-cita Anda untuk kuliah akan diteruskan?”. Dengan rendah hati dan penuh keyakinan saya menjawab, Ya! Saya akan tetap memperjuangkan cita-cita saya untuk kuliah, dimanapun dan sesulit apapun. Saya rasa itu jawaban yang pas. Dua pekan kutunggu mengapa tak ada jawaban.

Lalu dengan langkah gontai dipekan ketiga saya datangi kantor dimana saya diwawancarai, lalu sebuah kalimat terucap dari seorang pegawai HRD yang belum sempat mempersilahkan ku duduk, kalimat yang membuat seolah langit runtuh menghujam sekujur badan saya. “Maaf, kita gak bisa terima calon pegawai yang mau kuliah”.. Itu katanya.

Deg! sontak saya terdiam. Sebuah tanya besar dalam hati saya bersahut-sahutan. Apakah cita-cita untuk berkuliah itu adalah sebuah keinginan yang salah?? Sambil menaiki angkutan umum saya terus bertanya-tanya resah. Sampai akhirnya saya tiba di pintu rumah, dan tangis pun pecah. Saya bak seorang bocah cengeng yang minta dibelikan mainan oleh ibunya.

Peristiwa itu tak akan pernah saya lupa, sepanjang hidup saya, hingga sukses nanti menghampiri. Dan kini, Allah membayar pengorbanan itu dengan sesuatu yang sangat indah. Beberapa pekan berselang sejak peristiwa menyakitkan itu, saya diterima mengajar di sebuah Bimbingan Belajar yang hingga kini saya masih mengabdi disana. Dari sana pula saya berani untuk mendaftar ujian masuk perguruan tinggi. Alhasil, kini saya berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi di (Universitas Indonesia). Lebih dari itu, biaya kuliah tak perlu saya pikirkan, karena sudah ditanggung sepenuhnya oleh beasiswa hingga sarjana.

Dengan motto hidupku, Be Honest, Responsible, and All Out in Everthyng I Do, saya tancapkan mimpi saya di angkasa, menjadi seorang entrepreneur sukses dan penulis inspiratif ^^
Aamiin😀

10 thoughts on “Profile

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s