#Resensi Kiat Memimpin dalam Abad 21

Judul : Kiat Memimpin dalam Abad ke-21
Penulis : Prof. DR. Veitzhal Rivai, M.B.A.
Penerbit : PT. Raja Grafindo Perasada
Terbitan : I, Januari 2004
Tebal : 356 hlm

Edukatif, informatif, inspiratif, dan aplikatif. Adalah deretan kata yang pas dan sangat tepat dikatakan setelah membaca buku ini. Buku dengan judul “Kiat Memimpin dalam Abad ke-21” ini ditulis oleh seorang konsultan manajemen dan bisnis yaitu Prof. DR. Veitzhal Rivai, M.B.A.. Di dukung dengan pengalamannya buku ini akhirnya berhasil diluncurkan. Diantara pengalamannya yaitu, 25 tahun penulis sebagai eksekutif Bank Mandiri yang saat ini bank terbesar di Indonesia; pengalaman penulis sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi selama 28 tahun; sebagai dosen tamu di Malaysia; sebagai konsultan bisnis dan manajemen pada berbagai perusahaan serta kegiatan penulis pada berbagai organisasi yang berskala nasional. Oleh karena itu buku ini patut dibaca oleh mereka yang ingin sukses dalam kepemimpinannya.

Dari membaca judulnya saja, pembaca sudah dapat membayangkan, hal-hal menarik apa yang akan penulis suguhkan dalam karyanya ini. Buku ini mengulas berbagai macam aspek seputar kepemimpinan atau leadership di abad ke -21 ini. Isinya sangat relevan dengan kondisi masyarakat, terlebih masyarakat Indonesia yang sedang mengalami krisis kepemimpinan seperti sekarang.

Buku ini membekali pembaca untuk menghadapi gelombang pasang atau surut dalam dunia kepemimpinan. Tujuannya agar pembaca lebih mampu dan lebih siap serta dapat berdiri tegak mengendalikan diri dan akhirnya akan berhasil meraih sukses dalam hidupnya, sebagaimana juga sukses yang telah dialami oleh orang-orang sukses pada beberapa era terdahulu.

Buku ini sangat bermanfaat bagi pemimpin dan calon-calon pemimpin masa depan, baik pemimpin perusahaan maupun pemimpin organisasi (pemimpin formal atau pemimpin informal) atau pun mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang pemimpin. Khusus bagi mahasiswa, buku ini patut dibaca dan dijadikan sebagai salah satu buku yang menarik bagi mahasiswa program studi manapun.

“Kiat Memimpin dalam Abad ke-21” ini mengulas bagaimana model memimpin organisasi pada abad ke-21. Karena sebuah pertanyaan besar muncul tentang masih relevankah figur kepemimpinan dengan tipe kepemimpinan heroik seperti Lee Lacocca yang telah melakukan perubahan manajemen pada Chrysler Corporation atau Steven Jobs dengan prestasinya dalam bidang teknologi tinggi keuangan pada Apple Computer? Nah, dalam karyanya ini, Prof. Veitzhal menuliskan ada tipe kepemimpinan yang khas, yang diperlukan oleh organisasi dalam abad millennium ini, yaitu Superleadership.

Seperti apakah Superleadership itu? Penulis menjelaskan bahwa Superleadership yaitu suatu ciri kepemimpinan yang memimpin orang lain dengan memimpin dirinya sendiri (Selfleadership). Superleadership juga dikenal sebagai pemimpin empowering (pemberdaya). Pemimpin menjadi super mempunyai kekuatan dan kebijakan dari orang-orang dengan membantu mendorong kemampuan pengikut yang mengelilingi mereka. Kekuatan Superleader berlipat-lipat karena adanya kekuatan orang lain. Mengembangkan setiap orang menjadi self-leadership adalah tantangan yang menarik dan berat. Pemimpin yang melakukan ini disebut Superleader, suatu istilah yang digunakan manajer dan eksekutif yang bertanggung jawab memimpin orang lain, khususnya karyawan langsung mereka.

Lebih spesifik seorang Superleader adalah seseorang yang memimpin orang lain untuk memimpin diri mereka sendiri. Superleader  mendesain dan meletakkan sistem yang diikuti dan mengajar karyawan untuk menjadi self-leader. Pendekatan tersebut terdiri dari perluasan perangkat perilaku, yang semuanya dimaksudkan untuk menjadikan pengikut mempunyai kemampuan perilaku dan kognitif yang penting untuk melatih self-leadership. Superleader bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk memimpin orang lain agar mereka memimpin diri mereka sendiri?”. Superleader mendorong pengikutnya untuk berinisiatif, bertanggung jawab sendiri, percaya diri merencanakan tujuan sendiri, berfikir secara positif, dan mampu mengatasi permasalahan. Superleader memberi semangat pada orang lain untuk bertanggung jawab dari pada memberi perintah. Satu bagian penting dari Superleadership dalam menghadapi tantangan abad ke-21 adalah mengharuskan para pengikutnya untuk berpengetahuan dan perlu informasi untuk melatih kepemimpinan mereka sendiri.

Penulis juga dalam buku ini, mengutip perkataan Bill Gates yang isi pokoknya, bahwa  pemimpin adalah seseorang yang mampu menciptakan selfleader yang mempunyai pengetahuan dan informasi yang berarti bagi peningkatan kinerja dan organisasi mereka.

Sebuah kalimat singkat namun mendalam tertulis seperti ini, “…pada dasarnya tidak ada pemimpin yang dilahirkan…”. Manusia mungkin memiliki kemampuan tertentu yang memungkinkan mereka berkembang menjadi pemimpin, tapi mereka harus bekerja untuk itu. Kualitas atau ciri apa yang membuat seorang pemimpin efektif?   Penulis menjelaskan bahwa pemimpin cenderung memiliki empat karakteristik umum seperti intelegensi, kematangan sosial, memiliki motivasi dan orientasi pencapaian, dan memiliki kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi yang baik. Seorang pemimpin harus memiliki mutu. Ada 35 sifat yang harus dimiliki untuk menunjukkan mutu itu, yaitu akhlak yang baik, memiliki daya imajinasi, berfikir menurut fungsinya, mampu bersikap adil bagi semua, bersikap sebagai pendidik, memiliki banyak minat, memilki emosi yang matang, mampu menghormati diri dan orang lain, tekun, efektif dalam bertindak, terampil, tegas, mampu mengkoordinir dengan rapi, dapat dipercaya dan mandiri, punya integritas tinggi, semangat kerja tinggi, energik, bersifat sebagai pelatih, ekspresif (berbicara dan menulis), berpikir tajam, bertanggung jawab, logis, orientasi pada hasil, motivasi kerja tinggi, efisien, mampu melihat kedepan, memiliki sifat sebagai yang kaya dengan sumber, memiliki sifat sebagai seorang yang selalu ingin berbuat baik, kreatif, pekerja keras, dan inovatif, setia, manusiawi, jujur, cekatan, disiplin, memegang janji.

Dari 35 mutu yang disyaratkan, 3 diantaranya adalah kejujuran, integritas, dan tanggung jawab. Sangat berkenaan dengan apa yang dibutuhkan pemimpin saat ini. Para pemimpin jelas harus memiliki kejujuran dan integritas. Para pemimpin membangun kepercayaan yang berhubungan antara diri mereka dengan para pengikutnya dengan menjadi orang yang dipercaya dan dengan menunjukkan konsistensi yang tinggi antara kata dan tindakan, sehingga dapat dikatakan bahwa sama antar kata dengan perbuatan.

Ada 3 gaya kepemimpinan yang menarik untuk dipelajari, pemimpin kharismatik, transaksional, dan transformasional. Pemimpin kharismatik adalah seorang yang punya percaya diri, memiliki visi masa depan yang lebih baik, memiliki keyakinan yang kuat pada visi tersebut, perilaku yang tidak konvesional, merasa sebagai agen perubahan radikal. Pemimpin transaksional membimbing pengikutnya ke arah penetapan tujuan dengan menjelaskan peran dan syarat-syarat pekerjaan. Pemimpin transformasional menginspirasi pengikutnya untuk menempatkan kebaikan dan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi serta pemimpin mampu memberikan pengaruh luar biasa kepada pengikutnya.

Dalam isi bukunya, penulis menyatakan menurut Henry Mintzberg, seorang Amerika yang mengadakan studi eksekutif puncak beberapa tahun lalu, sebenarnya aktivitas pemimpin dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu kepemimpinan interpersonal, kepemimpinan informasional, dan kepemimpinan desisional.

Sungguh karya yang inspiratif. Menghapus rasa dahaga akan kebutuhan-kebutuhan ruhaniah seorang pemimpin. Buku ini, juga membuka mata kita bahwa betapa pentingnya komunikasi efektif dalam konsep kepemimpinan sukses. Pemimpin sebagai pusat kekuatan dan dinamisator bagi perusahaan, mau tidak mau dan suka tidak suka harus berkomunikasi pada semua pihak, baik melalui formal ataupun informal. Suksesnya kepemimpinan seseorang harus disadari bahwa sebagian besar ditentukan oleh kemahirannya dalam berkomunikasi yang tepat dengan semua pihak, baik secara vertikal maupun horizontal. Artinya seorang pemimpin harus bisa beradaptasi dan dapat berkomunikasi dengan siapa pun tanpa hambatan yang berarti.

Setidaknya, terdapat lima hukum berkomunikasi efektif yang dapat kita petik dengan membaca buku ini. Karena sesungguhnya komunikasi itu, menurut penulis, pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon dari orang lain. Hukum itu diantaranya, respect, empathy, audible, clarity, dan humble.

Respect, rasa hormat dan saling menghargai setiap individu sebagai hukum pertama yang menjadi sasaran pesan yang kita sampaikan. Yang perlu diingat bahwa saling menghargai dan saling menghormati dapat menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektivitas kinerja. Empathy, adalah kemampuan untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengar dan dimengerti oleh orang lain. Audible, searah dengan empathy artinya pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Clarity, artinya keterbukaan dan transparansi untuk menumbuhkan saling percaya dari penerima pesan atau anggota tim kita. Dengan demikian sikap saling curiga dapat dihilangkan. Humble, terkait dengan hukum pertama yaitu menghargai orang lain yang biasanya didasari sikap rendah hati yang kita miliki.

Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan oleh lima hal tersebut, maka komunikasi kita akan menjadi efektif, dan kita dapat menjadi komunikator yang handal pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain yang penuh dengan penghargaaan.

Ada hal yang tak kalah menarik, walaupun penulis banyak mengutip dan mencari sumber informasi kepemimpinan dari ilmuwan luar negeri, tetapi bukan berarti filosofi masyarakat bangsanya sendiri terlupakan. Hal ini dapat kita perhatikan dari kepandaian penulis dalam menjabarkan mengenai ciri kepemimpinan yang mengambil dari pepatah Jawa kuno, diantaranya Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani (di depan memberikan contoh dan teladan, di tengah memberikan semangat dan motivasi, dari belakang memberi dorongan dan bimbingan), Waspada purba wiseso (selalu waspada tanpa ada batasnya), Ewuh pakewuh (sungkan-tidak enak, tegas bersikap dalam mengoreksi mereka yang melakukan pelanggaran/kesalahan), Ambeg parana arta (mendahulukan yang penting), Prasaja, satia, gemi nastitis, bela-ka legawa (sederhana, loyal, selalu hemat dan berhati-hati, jujur dalam bertugas dan bertanggung jawab, ikhlas dan lapang dada). Sangat nasionalime. Hal ini mengisyaratkan bahwa bangsa kita sudah cukup kaya dengan keluhuran budi pekertinya, tinggal bagaimana kita memaknainya dan mau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Penulisannya yang sistematis, membuat buku ini semakin membuat pembacanya tak perlu sulit-sulit memahaminya. Semuanya dikupas lengkap. Mulai dari hal yang paling mendasar tentang keutamaan kepemimpinan abad milenium hingga mengulas tentang kiat-kiat mengatasi konflik dalam kelompok serta bagaimana membangun motivasi dalam tim.

Pada bab terakhir, penulis menantang pembaca melalui sederetan pertanyaan guna mengukur kualitas kepemimpinan. Melaui beberapa pertanyaan yang dapat diisi langsung, pembaca dapat mengidentifikasi dirinya sendiri tentang seberapa besarkah jiwa kepemimpinan yang tersimpan dalam dirinya. Kredibilitas penulis jelas tak perlu diragukan lagi. Penulis tidak hanya pintar sebatas teori tetapi juga sudah sangat berpengalaman dan mengerti akan dunia kepemimpinan. Ulasannya begitu dalam dan mendetail.

Kehadiran buku ini sangat penting dan perlu disambut dengan positif sehingga dapat menginspirasi bagi siapapun yang pembacanya. Bukan hal yang tidak mungkin berawal dari buku ini akan tercipta calon-calon pemimpin bangsa ini beberapa tahun ke depan.

Setelah selesai membaca buku ini, diharapkan ada tertinggal semangat untuk terus berjuang memajukan bangsa. Sudah saatnya untuk melangkah lebih jauh mengejar ketertinggalan dengan negara-negara Asia khususnya dan dunia pada umumnya yaitu dalam mengantisipasi kemajuan di segala bidang di abad ke-21 ini. Superleadership adalah motor yang menggerakkan roda kemajuan itu.

Buku ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu isinya yang memang disiapkan serelevan mungkin dengan kondisi dan tantangan kepemimpinan pada abad ke-21 ini. Ulasannya lengkap, tidak membuat pembaca bingung dan mengambang karena uraian juga yang sistematis. Di tambah lagi dengan penulisan ayat Al Qur’an di beberapa bagian tulisan, membuat pembaca khususnya yang beragama Islam memiliki kekuatan sugesti tersendiri setelah membacanya.

Namun, buku ini juga tak luput dari kekurangan. Penggunaan bahasa yang sangat baku dan banyak menggunakan istilah asing, membuat pembaca hanya terbatas pada masyarakat yang berada pada pengetahuan tingkat tertentu sehingga perlu pemahaman mendalam untuk menangkap maksudnya. Ini membuat, sasaran strategis seperti pelajar tingkat pertama atau pun masyarakat awam, yang notabene juga sebagai pemimpin bagi dirinya tidak dapat menjadi target yang terlalu potensial untuk membaca buku ini. Alangkah lebih baiknya lagi jika buku ini juga dapat disusun dalam format bahasa yang lebih mudah di serap atau dimengerti oleh kalangan muda.

Ada beberapa hal yang mendasari pemilihan buku ini sebagai bahan referensi. Pertama, karena isinya yang sangat relevan dengan kriteria buku bertemakan kepemimpinan sesuai yang dimaksud oleh panitia. Kedua, karena isinya yang up to date di era milenium ini semakin menambah antusiasme untuk membacanya. Ketiga, dikarenakan buku ini adalah karya seorang yang sangat berpengalaman dalam bidangnya yang sudah tidak diragukan lagi kapabilitasnya. Keempat, karena isinya yang sangat bagus dan kompleks, tak hanya memandang kepemimpinan dari satu aspek, namun mengulasnya dari berbagai aspek. Keempat hal itulah yang menjadikan buku ini memiliki tempat tersendiri untuk dipilih sebagai bacaan yang penuh nilai-nilai luhur kepemimpinan.

Tentang Buku, Jarvis & Resolusi Mark Zuckenbcerg

Tahun baru, semangat baru, resolusi baru.

Sebetulnya saya bukan tipikal orang yg senang dengan tahun baru & segala ritualnya, termasuk bikin-bikin ‘resolusi’.

Tapi, seolah udah jadi kebiasaan khalayak *cieelah* ganti tahun pasti rame-rame bikin resolusi.  Supaya keliatan pinter sedikit, nih arti resolusi menurut KBBI online:

resolusi/re·so·lu·si/ /résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal:

Agak ribet ya, tapi intinya sih kita bikin resolusi sama aja kaya kita bikin tuntutan, target, keinginan yang pingin dicapai di suatu kurun waktu. Capek ga? tergantung. Kita bisa ngeliat nya dari dua sisi, bisa jadi penyemangat & sebaliknya, bisa juga jadi beban buat diri sendiri. Kok bisa? Iya, makanya kadang bikin resolusi juga ga sembarangan, ada ukurannya, ibarat lagi nyusun mimpi, mesti SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Realistic, Timely). *ini sy inget entah dr motivator mana lupa*

Nah, gimana sih resolusi yg keren? Jujur ya, sy sendiri bukan termasuk yg jago & setiap bikin resolusi terus kesampean setiap tahun, maka dari itu sy nulis ini. *Zzzt.. rutin nulis di blog ini juga bagian dari resolusi sy lho, haha*. Ada yang cukup menarik kalo kita liat resolusi orang-orang hebat di dunia, salah satunya ini nih si Mark Zuckenberg.

Resolusi Mark, 2016

                                                   Resolusi Mark, 2016

Satu kata buat Mark, salut. 
Tahun 2016 ini dia menantang dirinya lebih jauh lagi, Mark pingin bikin  asisten digital pribadi berbasis Artificial Intelegence mirip Jarvis di film Iron Man. Kaya gini:

Wow kan 😀
Hmm.. menarik memang ngikutin perkembangan selanjutnya dari si Jarvis ini. Bagi sy yg menarik justru gimana si Mark bisa konsisten sehingga dia mampu mewujudkan tantangan-tantangan yg dia buat sendiri. Impian soal Jarvis ini mungkin baru disusun dan belom terbukti jadi nggaknya.

Makanya, resolusi tahun sebelumnya di 2015 jadi bukti kalo si Mark emang tipikal ambisius & konkret.

Mark Zuckerberg, CEO Facebook, mengaku berhasil menjalani resolusi tahun 2015 yang ditetapkannya sendiri. Ia melahap dua buku setiap bulannya, belajar bahasa Mandarin, dan berkenalan dengan satu orang baru setiap harinya. (via kompas.com)

See?
Justru resolusinya di 2015 nggak kalah menarik, kala itu dia bikin fanpages Year of Books untuk mewujudkan ambisinya untuk lebih sering membaca. Mark menantang dirinya sendiri untuk melahap dua buku setiap bulannya & pingin jago bahasa Mandarin, di tambah lagi dia mau kenalan satu orang baru yg enggak dikenalnya lewat facebook. *speechless, dia aja pingin ngamalin yg namanya berkah silaturahim, gimana kita yg muslim -_-

Pernah suatu ketika dia posting soal buku Muqaddimahnya Ibnu Khaldun, sampe2 beberapa orang di sekeliling sy yg punya langsung upload beberapa gambarnya ke instagram, & kita juga jadi malu sendiri sbg muslim sendiri belum pernah baca buku karya ilmuwan sekeren Ibnu Khaldun.

Mark emang deh kalo udah bikin resolusi, jadinya unik & viral, kaya yg sy kutip ini beberapa resolusi Mark yg pernah dia bikin:

2009: Bersumpah untuk tidak memakai dasi untuk bekerja setiap hari.
2010: Belajar bahasa China Mandarin.
2011: Bersumpah menjadi vegetarian atau hanya makan daging jika hewannya ia bunuh sendiri.
2012: Mengatakan akan berlatih coding setiap hari selama setahun.
2013: Bersumpah untuk berbicara langsung kepada satu orang setiap hari yang tidak dilakukan melalui Facebook.
2014: Bersumpah untuk menulis satu catatan terima kasih setiap hari. (via my sharing.co)

Gimana?
Makin semangat kan buat bikin & wujudin resolusinya? Ayok deh, sama-sama kita saling menyemangati, dan inget.. paling penting, resolusi kita punya manfaat bukan hanya buat diri kita ya, tapi lebih bagus buat orang banyak 😀

Sebuah Catetan di 2015

Nggak terasa hari ganti minggu, minggu ganti bulan, sampe akhirnya bulan ganti tahun. Taon 2016 (aksen betawi) udah lewat beberapa hari, moga nggak terlambat buat saya mengabadikan dia, iya dia 2015. Tambah lagi gegara kepo blog salah seorang dia perempuan & bukan siapa-siapa, saya jadi semangat nulis lagi.

Mungkin sedikit yg tahu kalo saya pernah jadi bagian dari PPM SoM, ya sekolah Manajemen yg satu ini sempet jdi incaran saya. Lokasinya di Menteng, persis depan patung tugu tani, di tikungannya, googling aja kalo penasaran mah. Alhasil, beneran kesampean, sayangnya bukan berlabel sebagai mahasiswa kaya impian saya, apalagi dosen, da aku ma apa atuh..

Ya .. awal 2015 jdi awal saya ‘bantu-bantu’ di program Magister Manajemen Eksekutif (MME). Ini sebenernya sih sisa mimpi saya di 2014, abis lulus pingin nya sih kuliah lagi, jurusan kebisnisan. (salah2, nggak ada jurusan ini, pokoknya yg kaitannya sm bisnis & manajemen, hmm.. sungguh mimpi yg gak spesifik yak -_-).  Tapi, justru kesempatan utk kerja disana datang lebih dahulu ketimbang beasiswa PPM yg sy idamkan.. Maka berlabuhlah saya 😀

Jobdesc saya adalah mengelola keperluan akademik program MM tapi buat kalangan Eksekutif, ciri khasnya mereka jd mahasiswa, S2, Manajemen, umurnya di atas 30, terus posisinya gak tanggung2 di perusahaan mereka bekerja, rerata manajer & direktur. Wow kan.. *iya mereka yg wow, da aku ma apa atuh..

Sayangnya nggak sampai berbilang tahun, sy disana sekitar 24 pekan, start akhir desember sampe awal Mei. *Ekslusif nih infonya hanya di tulisan ini haha*. Menyenangkan buat saya sebetulnya, tapi apalah daya terkadang kita harus mengambil sebuah pilihan terbaik utk hidup kita *bijak*. Paling berkesan buat saya pas sy mau perpisahan sama bapak & ibu mahasiswa, hiks banget.. *ambil tisu*

Ini beberapa potongan kenangan disana:

IMG-20150502-WA0001

foto kenangan MME 56 yg baik hati

 

IMG-20150502-WA0003

foto sm Bu Arias, spesial

 

Selain MME 56, ada MME 55 & 57, semuanya alhamdulillah baik *jujur* meski yaa sedikit kadang saya kerepotan.. hehe

MME 57 sempet bekelin saya souvenir yang ‘wow’ & paling pnting dapet wejangan dari pak Rimbun Situmorang, tentang arti hidup & perjuangan. Beliau sempet cerita sebelum jadi eksekutif kaya sekarang beliau kerja dari perusahaannya awal banget berdiri, sempet tinggal selangkah lagi jadi PNS, tpi malah ngikutin panggilan hatinya utk tetap mengabdi di perusahaan & akhirnya perusahaannya sukses sebagaimana suksesnya beliau sekarang. Nggak hanya itu, ini mungkin hadiah yg bisa dibilang termahal  dari segi nominal ya, jam tangan fossil. Hmm..  meskipun sebentar, buat saya membersamai para eksekutif dari dekat *dimana mereka tidak hanya dari bumn atau bums, tpi juga ada yg jadi manajer di perusahaannya sendiri* adalah pengalaman yg luar biasa.

Satu lagi paling berkesan adalah ketemu temen2 baru di Akademik PPM & of course tentu saja ketemu bu Ningky yg asik, seru, baik hati, & bikin sy utopis, berharap kalau beliau masih seumuran saya #lho 😀

Inilah sekaligus menjadi masa-masa awal jadi amfibi *bukan kodok ya* hidup di 2 alam, usaha sewa tetap berjalan sembari nyambi jd ‘orang kantoran’.

Pertengahan tahun 2015, saya kembali ke habitat lama sy, ‘mengajar’. Hingga saat ini saya pun masih mengajar. Sambil tetap berjalannya usaha sewa sy yg masih & terus struggling saya memilih mengajar. “Kok anak JIP malah ngajar sih bukan seharusnya kerja di perpustakaan, arsip, atau yg sejalur lah?”. Hmm.. jawaban sy hanya satu, terkadang hidup nggak semudah yg seharusnya kita. Jadi let it flow aja.. jangan lupa terus memperbaiki diri & berupaya sebaik-baiknya disertai doa.

To be honest, keinginan terbesar sy adalah bisa bermanfaat ilmu & kehadiran sy, dimanapun.

Lalu, Pertengahan tahun 2015 jg jdi titik bagi sy kenal sama namanya dunia ‘start up’. Start up sederhanya adalah usaha or bisnis berbasis teknologi. Sekarang ini, apalagi didukung perkembangan smartphone yg gile bener, start up & beragam aplikasi mulai dari transportasi kaya Gojek, Grabbike, terus online shop semodel lazada, elevenia, dll sampe marketplace kaya bukalapak & tokopedia booming banget. Minat sy sih sederhana, sy ingin memasukkan unsur teknologi ini ke usaha sewa saya & jadilah sy beserta kawan satu kamar sy & satu beasiswa dulunya merancang ide ini di pertengahan menjelang akhir 2015. Kita juga rutin nimba ilmu dari para pakar & praktisi dengan ikutan hadir di acara-acara start up, kaya foto yg satu ini di event Startup Lokal, Jakarta Digital Valley:

bersama CEO bukalapak.com, Ahmad Zaky

bersama CEO bukalapak.com, Ahmad Zaky

 

bersama Ryan Gondokusumo, CEO sribu.com & Halo Diana

bersama Ryan Gondokusumo, CEO sribu.com & Halo Diana

Dari sana kita terus charge semangat kita, sampe hari ini. Meskipun sayangnya jalan kita nggak semulus yang dikira.  Kawan sy memilih untuk kerja dulu & agaknya begitu pun sy. Sy masih rutin mengajar & siap untuk mengambil sebuah keputusan penting awal tahun ini. Sy nggak patah arang kok, cuma mungkin meniru sedikit bagaimana CEO Semerbak Coffee, Muadzin Jihad, yg pernah menjalankan bisnisnya di kala ia masih sibuk jadi pegawai, sy kira hal ini masih mungkin dilakukan, asal kita mau bekerja lebih keras utk mengorbankan sedikit ‘waktu tidur’ & berdoa lebih banyak. Inysaallah.

Selain beberapa hal yg sy udah ceritain di atas, sy juga cukup senang karena tahun ini sy bisa menghadiahi adik saya laptop *yeee 😀 supaya dia lebih rajin lagi sekolahnya & berharap tahun ini dia bisa kuliah juga *dgn beasiswa semoga*

Dan..
Awal 2016 ini, saya punya harapan di usia yang menjelang seperti judul album terbarunya Adele (silahkan tebak), semoga tahun ini sy dari segi dompet bisa lebih mandiri, adik-adik sy bisa sy bantu kuliah & sekolahnya, usaha sy omzetnya naik, kerjaan lancar, juga pastinya lebih baik dari tahun 2015, sehingga akhir tahun ini sy bisa.. *titik2* (isi dgn harapan yg baik, hehe)
Aamiin..

Ini Deretan Fakta Unik Seputar Buku

Via merdeka.com. Buku adalah jendela dunia. Buku adalah gudang ilmu. Dua kalimat itu tampaknya sudah kita akrabi sejak masih duduk di bangku sekolah. Namun kenyataannya buku justru jadi salah satu barang yang kurang populer di Indonesia.

Riset yang dilakukan oleh UNESCO dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) beberapa tahun lalu menunjukkan kalau ASEAN termasuk negara-negara dengan minat baca paling rendah. Sementara di Indonesia sendiri rata-rata warga membaca kurang dari 1 buku setiap tahunnya. Padahal membaca buku bisa memberikan banyak manfaat tak terduga selain bertambahnya pengetahuan.

  1. Baca buku punya sejuta manfaat untuk kesehatan

    baca-buku-punya-sejuta-manfaat-untuk-kesehatan-rev2
    Membaca buku tak hanya membuat seseorang jadi kaya akan informasi dan pengetahuan. Hobi yang sering dikaitkan dengan orang-orang kuper ini ternyata memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh.

    Menurut sejumlah penelitian, membaca buku bisa menjadikan seseorang terhindar dari stres. Pasalnya orang-orang yang membaca buku lebih mudah merasa rileks. Buku juga bisa mencegah pikun, membuat seseorang lebih cepat tidur, dan menjadikan awet muda. Selain itu membaca juga bisa menjadi latihan untuk memperkuat memori dan kemampuan otak.

  2. Penerbit Argentina luncurkan buku yang bisa ditanam

    penerbit-argentina-luncurkan-buku-yang-bisa-ditanam-rev2
    Perusahaan penerbitan Pequeno Editor menerbitkan buku berjudul Mi Papa Estuvo en la Selva atau “Ayahku Di Hutan”. Buku ini menceritakan tentang hutan dan bagaimana cara untuk menghargai setiap makhluk hidup.

    Yang menjadikan buku ini istimewa jika dibandingkan dengan buku bacaan lainnya adalah buku ini bisa ditanam. Buku anak-anak ini dibuat dari kertas bebas asam, tinta ramah lingkungan, dan dilengkapi dengan biji jacaranda yang bisa tumbuh menjadi pohon dalam beberapa tahun.

    Buku ini merupakan bagian dari proyek Tree Book Tree. Target dari proyek ini adalah anak-anak usia 8-12 tahun. Tujuannya mengajarkan kepada anak-anak tentang asal-muasal buku sekaligus mengajak mereka berbuat lebih untuk lingkungan yang telah memberikan kehidupan bagi umat manusia.

  3. Penelitian buktikan buku cetak tetap lebih unggul daripada ebook

    penelitian-buktikan-buku-cetak-tetap-lebih-unggul-daripada-ebook-rev2
    Saat ini ebook lebih populer dibandingkan buku cetak biasa karena lebih praktis dan murah. Kehadiran ebook bahkan membuat toko-toko buku tradisional mengalami kemunduran bisnis. Namun penelitian terbaru mengungkap kalau buku cetak ternyata tetap memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan buku elektronik.

    Menurut penelitian yang dilakukan oleh West Chester University, pemahaman yang didapat lewat membaca ebook lebih rendah jika dibandingkan dengan membaca buku cetak konvensional. Sejumlah penelitian lain menunjukkan kalau pembaca ebook lebih sulit mengingat informasi yang mereka baca dan lebih mudah terganggu konsentrasinya. Selain itu ebook membuat mata lebih cepat lelah daripada buku konvensional.

  4. Brasil punya buku yang merangkap sebagai tiket kereta

    brasil-punya-buku-yang-merangkap-sebagai-tiket-kereta-rev2Dilansir Mental_floss, penerbit L&PM Editores bekerja sama dengan agensi iklan Agencia Africa untuk meningkatkan tingkat baca yang sangat rendah pada warga Brasil. Caranya dengan membuat buku multifungsi berjudul Ticket Books. Buku ini bisa dibaca sekaligus berfungsi sebagai tiket kereta bawah tanah.

    Setiap buku dilengkapi dengan chip khusus yang bisa dipindai pada sensor tiket di stasiun. Dengan cara ini diharapkan penumpang akan memilih membaca buku untuk menghabiskan waktu di perjalanan.

  5. Pada zaman dahulu buku biasa disampul dengan kulit manusia

    pada-zaman-dahulu-buku-biasa-disampul-dengan-kulit-manusia-rev2Tahukah kamu, beberapa abad yang lalu buku biasa disampul dengan kulit manusia? Praktik ini disebut anthropodermic bibliopegy. Menurut mantan direktur perpustakaan University of Kentucky, Lawrence S. Thompson kepada The Harvard Crimson, praktik ini bisa ditelusuri hingga ke abad 16 sampai 17. Pada masa itu, jurnal yang berisi data-data para kriminal umumnya dijilid dengan kulit mereka sendiri. Kulit ini biasanya diambil setelah sang narapidana dieksekusi.

    Hingga saat ini beberapa perpustakaan terkemuka masih menyimpan sejumlah buku kuno yang berhias sampul kulit manusia. Salah satunya adalah Des destinees de l’ame karya Arsene Houssaye yang tersimpan di perpustakaan Harvard University. Menurut keterangan tertulis dalam sampul buku yang sudah diuji keasliannya ini, kulit yang digunakan adalah milik seorang pasien sakit jiwa tak dikenal.

  6. Buku mewarna jadi best seller di tahun 2015

    buku-mewarna-jadi-best-seller-di-tahun-2015-rev6
    Menurut daftar best seller Amazon, tiga dari sepuluh buku terlaris tahun ini adalah buku mewarnai untuk dewasa. Buku mewarnai yang ditujukan untuk konsumen dewasa memang hits sepanjang tahun 2015, ditandai dengan larisnya buku Secret Garden: An Inky Treasure Hunt and Coloring Book karya Johanna Basford.

    Hobi mewarnai ini diklaim mampu meredakan stres dan sudah digunakan sebagai sarana terapi oleh para psikiater sejak berabad-abad lalu.

    Kepopuleran buku mewarnai untuk dewasa juga melanda Indonesia. Selain Secret Garden, penerbit Indonesia juga meluncurkan buku serupa yang berjudul Batik.

  7. Buku kuno terbesar di dunia terletak di Myanmar

    buku-kuno-terbesar-di-dunia-terletak-di-myanmar-rev1
    Buku kuno paling besar di dunia ternyata terletak di Asia Tenggara. Buku ini berada di Pagoda Kuthodaw yang dibangun di kaki Bukit Mandalay, Myanmar. Buku yang berisi poin-poin kebijakan Buddha ini jadi yang terbesar di dunia karena tersebar di halaman kompleks pagoda.

    Buku itu terdiri dari 1.460 halaman yang disatukan menjadi 729 lempeng tablet. Masing-masing memiliki lebar 107 cm dan panjang 153 cm. Masing-masing tablet dinaungi cungkup-cungkup putih yang memenuhi halaman.

  8. Belenggu adalah novel psikologis pertama Indonesia

    belenggu-adalah-novel-psikologis-pertama-indonesia-rev1
    Menurut Korrie Layun Rampan dalam Leksikon Susastra Indonesia, Belenggu karya Armijn Pane adalah novel psikologis pertama di Indonesia. Belenggu menceritakan konflik cinta segitiga antara tokoh-tokoh yang terjebak di antara gesekan pemikiran modern dan nilai-nilai tradisional.

    Ketika diterbitkan, Belenggu dianggap kontroversial oleh sejumlah pihak. Pasalnya nvel ini dituding menampilkan hal-hal yang dianggap tabu pada masa itu, misalnya prostitusi dan perselingkuhan. Walaupun begitu, novel ini juga dianggap menggambarkan konflik sehari-hari yang manusiawi.

  9. Kolombia punya perpustakaan keledai, Kenya punya perpustakaan unta

    kolombia-punya-perpustakaan-keledai-kenya-punya-perpustakaan-unta-rev1
    Luis Soriano, seorang guru sekolah dasar di La Gloria, Kolombia mendirikan perpustakaan unik yang diberi nama Biblioburro. Konsep perpustakaan yang satu ini adalah mengantarkan sumber bacaan kepada anak-anak dengan keledaipeliharaannya di rumah. Soriano memutuskan untuk mengantarkan buku dan mengajar anak-anak di rumah masing-masing demi memberikan akses terhadap ilmu kepada mereka. Pasalnya kebanyakan anak-anak ini tidak mengenyam pendidikan karena diharuskan bekerja membantu keluarga sejak usia dini.

    Sementara itu di Kenya justru unta yang dijadikan sebagai sarana untuk mengantarkan sumber informasi kepada anak-anak. Kenya National Library Service membuat program perpustakaan keliling untuk merambah desa-desa terpencil dan komunitas nomaden di Kenya. Dan untuk menyiasati keterbatasan dana yang ada, institusi ini memanfaatkan tenaga unta alih-alih kendaraan bermotor. Unta-unta ini dibekali pelana dengan kotak kayu di kedua sisinya yang penuh berisi buku bacaan dan tikar. Kemudian unta-unta tersebut melakukan perjalanan bersama para pustakawan melintasi padang pasir yang tandus. Unta-unta ini kemudian mampir ke komunitas-komunitas nomaden dan sekolah terpencil di gurun pasir untuk meminjamkan buku kepada anak-anak atau orang dewasa.

    Itulah beberapa fakta unik dan menarik tentang buku dan membaca yang perlu kamu ketahui.

    Source:
    http://www.merdeka.com/gaya/ini-deretan-fakta-fakta-unik-seputar-buku-yang-wajib-diketahui/kolombia-punya-perpustakaan-keledai-kenya-punya-perpustakaan-unta.html
    Akses 5 Januari 2016